Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung bilang, saat pelaku asing ramai-ramai mengalihkan dananya dari pasar domestik, ketersediaan valuta asing di dalam negeri diklaim stabil bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan korporasi.
Per Oktober, BI mencatat surplus pasokan dolar AS di dalam negeri. "Karena, demand (permintaan) valas dari korporasi sekarang tidak terlalu besar seperti dulu, setelah regulasi BI tentang kewajiban penggunaan rupiah dalam transaksi dalam negeri. Jadi, ini cukup menekan permintaan valas," ujarnya dalam acara bertajuk Sarah Sehan 100 Ekonom, Selasa (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketersediaan valas dalam negeri diperkirakan juga akan semakin meningkat, seiring dengan rencana repatriasi yang akan dilakukan oleh para Wajib Pajak (WP) akhir tahun nanti. Ekspektasi ini menguatkan keyakinan nilai tukar rupiah akan cenderung menguat jelang pergantian tahun, meski The Fed berencana menaikkan suku bunga acuannya.
"Data Oktober dan November ekspor kita tumbuh 18 persen dan bukan hanya karena secara harga, tapi secara riil naik. Ekspor manufaktur secara rill naik 7-8 persen dan ekspor komoditas negatifnya sudah berkurang," imbuhnya. (bir/gen)