Indonesia Berpotensi Terjebak dalam Middle Income Trap

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Minggu, 04/12/2016 16:08 WIB
Indonesia Berpotensi Terjebak dalam <i>Middle Income Trap</i> Indonesia harus memiliki pendapatan per kapita sebesar US$13 ribu pada tahun 2030, karena bonus demografi Indonesia akan habis pada periode tersebut. (REUTERS/Beawiharta).
Bali, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut Indonesia harus memiliki pendapatan per kapita sebesar US$13 ribu pada tahun 2030 mendatang. Apabila target itu tak mampu dipenuhi, maka Indonesia berpotensi terjebak di dalam negara-negara dengan pendapatan menengah dan tak bisa bergerak ke arah negara maju (middle income trap).

Direktur Eksekutif Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung mengatakan, tahun 2030 adalah tenggat yang sesuai, karena bonus demografi Indonesia akan habis pada periode tersebut. Setelah periode tersebut, maka pertumbuhan populasi usia produktif akan menurun dan mengakibatkan pertumbuhan basis pendapatan per kapita juga akan melandai.

"Bonus demografi ke depan akan habis dalam jangka waktu 14 tahun lagi. Sehingga, pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi. Kalau begini-begini saja, maka Indonesia akan terjebak dalam middle income trap," ujar Juda di Bali, Sabtu (3/12).


Jika pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya tetap di angka 5 persen, maka pendapatan per kapita di Indonesia tahun 2030 mungkin hanya bisa mencapai US$7.247. Hal ini sangat disayangkan, mengingat angka tersebut bahkan tidak bisa menyamai pendapatan per kapita Malaysia yang saat ini sebesar US$10.876.

"Masa pendapatan per kapita Indonesia di tahun 14 tahun mendatang tidak bisa menyamai Malaysia? Makanya, Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius jika ingin keluar dari middle income trap," jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 10 persen per tahun agar pendapatan per kapita 14 tahun lagi bisa mencapai level US$14.129. Namun, menurutnya, angka itu kurang realistis karena hanya sedikit negara yang bisa mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit belakangan ini.

Sehingga, menurut Juda, angka pertumbuhan ekonomi paling realistis adalah 7,1 persen per tahun, sehingga bisa menghasilkan pendapatan per kapita US$9.652 di tahun 2030. Memang, angka itu belum bisa membawa Indonesia ke golongan negara-negara berpendapatan tinggi. Namun, setidaknya angka tersebut mendekati posisi Malaysia saat ini.

"Dan masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan moneter dan fiskal yang sifatnya jangka pendek. Ini perlu perbaikan struktur ekonomi, seperti investasi di riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) dan Sumber Daya Manusia (SDM)," imbuhnya.

Ia menjelaskan, beberapa negara yang sukses membawa penduduknya dari middle income trap adalah Malaysia, dimana pemerintahnya sangat aktif memberikan beasiswa pendidikan tingkat tinggi sebagai investasi SDM.

Namun jika tidak, maka Indonesia selamanya tidak bisa melangkah ke negara maju, sama seperti yang dialami Argentina atau Brazil sejak abad 19 silam.

"Selain itu, Indonesia juga tidak bisa terus bertumpu pada sektor komoditas. Faktor yang bisa menunjang pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah produktivitas, human resources, dan harus berbasiskan pada industri manufaktur," kata Juda.

Menurut data International Monetary Fund (IMF), pendapatan per kapita Indonesia hingga tahun 2015 berada pada posisi US$3.412. (bir/bir)