“Memangnya OPEC itu menentukan segalanya? OPEC itu sudah sering melakukan kebijakan A sampai E tetapi dampaknya tidak seperti OPEC zaman dulu karena banyak produsen minyak di luar OPEC, yang produksinya besar seperti Rusia, Meksiko, Brazil,” tutur Bambang di kantornya, Kamis (8/12).
Bambang mengungkapkan, potensi kenaikan harga minyak tahun depan juga telah terekam dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yang menetapkan asumsi harga minyak sebesar US$45 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun depan, subsidi BBM hanya diperuntukkan untuk solar dan minyak tanah dengan alokasi anggaran sebesar Rp32,2 triliun, termasuk di dalamnya untuk mensubsidi elpiji tabung 3 kilogram (kg).
Saat ini, dengan penentuan harga BBM dievaluasi per tiga bulan, pemerintah memiliki ruang untuk mengendalikan harga-harga rata-rata terakhir.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga meragukan harga minyak mentah dunia bakal naik signifikan tahun depan. Pasalnya, potensi turunnya permintaan minyak seiring dengan risiko belum pulihnya perekonomian global.
"Dilihat dari prospek permintaan yang tidak mengalami kenaikan, kemungkinan saja penguatan dari harga minyak itu akan terpengaruh atau dilemahkan oleh permintaan yang melemah sehingga [harga minyak] tidak akan bertahan dalam posisi yang terlalu lama dalam posisi yang terlalu tinggi," tutur Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (6/12) lalu.
Hal ini dipicu oleh meningkatnya persediaan minyak Amerika Serikat (AS) dan keraguan bahwa pemangkasan produksu yang dilakukan organisasi negara-negara pengekspor minyak OPEC dan Rusia tak cukup untuk mengurangi kelebihan suplai minyak saat ini.
Keraguan ini muncul setelah laporan Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan bahwa persediaan minyak turun 2,4 juta barel sepanjang pekan lalu. Namun, persediaan minyak di hub pengiriman minyak berjangka AS di Cushing, negara bagian Oklahoma meningkat 3,8 juta barel pada periode yang sama. (gen)