Ia meramal keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) untuk menaikkan harga minyak, bakal sia-sia. Pasalnya kebijakan tersebut tidak diimbangi dengan naiknya permintaan minyak yang disebutnya justru bakal merosot tahun depan.
"Dilihat dari prospek permintaan yang tidak mengalami kenaikan, kemungkinan saja penguatan dari harga minyak itu akan terpengaruh atau dilemahkan oleh permintaan yang melemah. Sehingga harga minyak tidak akan bertahan dalam posisi tinggi dalam waktu lama," tutur Sri Mulyani saat menghadiri Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar INDEF di Jakarta, Selasa (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyeksi mengenai permintaan minyak di Eropa masih akan mix dengan apa yang terjadi di Eropa, dengan Brexit, hasil referendum Italia, dan berbagai election yang akan terjadi di Perancis maupun di Jerman dan Belanda," ujarnya.
"Secara total di 2017, saya masih menganggap imbang dari sisi kemungkinan harga minyak sesuai dengan asumsi kita US$45 per barel," ujarnya.
Sebagai informasi, harga minyak telah meningkat 19 persen pasca OPEC mengumumkan rencana untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel yang dimulai pada 1 Januari 2017 mendatang.
Sebelumnya, negara-negara non-OPEC berkomitmen untuk mengurangi produksi minyak sebesar 600 ribu barel per hari pada tahun depan. Keputusan itu diumumkan di pertemuan antar anggota OPEC di Wina, Austria.
Kebijakan itu juga diikuti oleh Rusia yang menyatakan akan memangkas produksi 300 ribu barel per hari. (gen)