Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyatakan Pertamina siap melaksanakan penugasan tersebut. Pasalnya, perusahaan tidak memulai proyek tersebut dari nol lagi.
"Pertamina optimistis dapat menyelesaikan proyek lebih cepat karena kami tidak memulai proyek tersebut dari nol. Dari skala 10, kami sudah ada di titik ke-lima atau enam," kata Wianda melalui siaran pers dikutip Jumat (16/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain ketersediaan lahan, fasilitas dan infrastruktur pendukung seperti 21 unit boiler kualitas tinggi, pembangkit listrik, tangki penyimpanan, dan fasilitas umum lainnya dapat digunakan untuk mendukung pengoperasian kilang Bontang nantinya.
Apabila BFS selesai, Pertamina berharap awal 2018 penyiapan lahan sudah bisa dimulai. Sehingga pekerjaan fisik NGRR Bontang bisa dimulai tepat waktu pada akhir 2019 dan selesai pertengahan 2023.
"Kami menyambut baik penugasan dari pemerintah dan akan berupaya semaksimal untuk merealisasikan proyek tersebut sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan target pemerintah," jelasnya.
Di samping itu, Pertamina juga diberikan mandat untuk mengintegrasikan kilang BBM dengan petrokimia. Adapun, hasil produksi kilang tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Produksi tersebut nantinya bisa diekspor jika kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi atau tidak ada kesepakatan jual-beli di dalam negeri. (gir)