Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Rachmad Hardadi mengungkapkan, komunikasi dengan perusahaan minyak milik kerajaan Arab Saudi sampai saat ini berjalan dengan baik.
"Pertemuan ini tentu diharapkan bisa menandatangani suatu perjanjian. Mudah-mudahan, 22 Desember bisa memberikan hasil yang memuaskan," ujar Hardadi di acara Pertamina Forum Energy, Rabu (14/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila kerja sama antara Pertamina-Saudi Aramco yang memiliki total investasi sebesar US$4,5 miliar tersebut berhasil diteruskan, lanjut Hardadi, indeks efektivitas pengolahan kilang Pertamina dapat meningkat ke angka 9.
Tak hanya itu, bila RDMP Cilacap selesai dibangun, ditargetkan kapasitas kilang Cilacap dapat meningkat menjadi 370 ribu barel per hari (bph) dari sebelumnya 345 ribu bph.
Ia melanjutkan, peningkatan indeks efektivitas tersebut sangat diperlukan bagi Indonesia untuk mencapai target kedaulatan energi sembilan tahun mendatang.
Sebagai informasi, HoA pertama kilang Cilacap ditandatangani pada 26 November 2015 lalu, di mana site preparation dan Basic Engineering Design (BED) diharapkan bisa dikerjakan dalam jangka waktu setahun.
Namun, saat ini proses BED yang dilakukan di Inggris masih belum rampung, karena kajian studi bersama seperti perhitungan teknis dan komersial juga belum sempurna. Padahal, HoA pertama RDMP Cilacap sudah kadaluwarsa pada 26 November 2016.
Oleh karena itu, pada 24 November 2016, Pertamina kembali melakukan negosiasi dengan Saudi Aramco untuk memperpanjang HoA. (gen)