PLN Kantongi Pinjaman Rp12 Triliun Biayai Pembangkit Listrik

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 19/12/2016 18:45 WIB
PLN Kantongi Pinjaman Rp12 Triliun Biayai Pembangkit Listrik PLN mengantongi pinjaman tahap II senilai Rp12 triliun untuk mempercepat pembangunan proyek pembangkit listrik 35 ribu MW. (ANTARA FOTO/Reno Esnir).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mengantongi pinjaman tahap II senilai Rp12 triliun. Enam institusi keuangan tercatat melakukan sindikasi pembiayaan, yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Maybank Indonesia, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), serta Indonesia Eximbank.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, pinjaman bertenor 10 tahun tersebut akan digunakan untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik, gardu, transmisi, dan distribusi listrik ke seluruh Indon​​esia dalam rangka penyelesaian proyek listrik dengan kapasitas 35 ribu megawatt (MW).

"Kredit investasi sebesar Rp12 triliun ini merupakan dukungan dari perbankan terhadap program listrik 35 ribu MW yang dilaksanakan oleh PLN. Kami yakin, dana ini akan sangat berguna untuk menggagas pembangunan proyek listrik 35 ribu MW," ujar Sofyan, Senin (19/12).


Ia menyebutkan, hasil dari perjanjian sindikasi ini juga akan digunakan untuk menambah pendanaan sejumlah proyek pembangunan listrik yang telah dilakukan di sepanjang tahun ini.

Adapun, sebagian lainnya akan digunakan untuk beberapa proyek pembangunan gardu dan transmisi yang baru dibangun atawa memasuki masa konstruksi pada 2017 nanti.

"Pendanaan ini guna menyediakan listrik yang memadai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," imbuh dia.

PLN mencatat, saat ini, pembangunan infrastruktur listrik belum menjangkau seluruh Indonesia. Berdasarkan data PLN, masih ada sekitar 46 ribu transmisi listrik yang menjadi pekerjaan rumah PLN guna mengalirkan listrik ke desa-desa terpencil hingga pelosok Indonesia.

Pinjaman kredit sindikasi ini merupakan strategi PLN dalam memperoleh pendanaan yang prudent (hati-hati) dan konservatif melalui peningkatan porsi pendanaan dalam negeri atau dengan mata uang rupiah dalam portofolio pinjaman PLN.

Di samping alasan, PLN tengah berupaya memaksimalkan porsi rupiah dalam pendanaan untuk mengurangi eksposur mata uang asing.

Secara rinci, PLN mendapat pinjaman sindikasi dari Bank Mandiri senilai Rp3,25 triliun, BCA Rp3,25 triliun, Maybank Rp2 triliun, SMI Rp3 triliun, BRI Rp1 triliun, serta Eximbank Rp500 miliar.

Sebelumnya, tahun lalu, PLN telah mendapat pinjaman sindikasi tahap I senilai Rp12 triliun dari Bank Mandiri, BCA, BRI, Maybank, SMI, dan Eximbank dengan tenor 10 tahun dan masa tenggang sekitar tiga tahun.

Penandatangan perjanjian kredit dilakukan oleh Direktur Utama PLN Sofyan Basir, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar, Direktur Corporate Banking BCA Rudy Susanto, Direktur Utama Maybank Indonesia Taswin Zakaria, Direktur Kelembagaan BRI Kuswiyoto, Direktur Utama SMI Emma Sri Martini, dan Direktur Pelaksana I Indonesia Eximbank Dwi Wahyudi. (bir/bir)