Teropong 2017

Perbankan Belum Juga Kapok Pasang Target Kredit Ambisius

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Selasa, 03/01/2017 09:00 WIB
Perbankan Belum Juga Kapok Pasang Target Kredit Ambisius Bank-bank kelompok BUKU 3 dan 4 ambisius mematok pertumbuhan kredit di sepanjang 2016 hingga 13 persen. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perlambatan pertumbuhan kredit perbankan di sepanjang tahun ini tidak menciutkan nyali pelaku usaha untuk menatap penuh harap di tahun depan. Tengoklah, dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), bank-bank kelompok BUKU 3 dan 4 ambisius mematok pertumbuhan kredit tahun ini hingga 13 persen.

Target tersebut jauh lebih tinggi ketimbang pencapaian hingga akhir tahun nanti yang diproyeksikan hanya berkisar 9 persen-10 persen.

"Secara industri cukup tinggi juga sih targetnya. OJK target kreditnya kan hanya 11-12 persen tapi secara industri masih di atas 12 persen bahkan mendekati 13 persen," ujar Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Irwan Lubis kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/12) lalu.


PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, salah satu bank di kelompok BUKU 4 yang turut memasang target pertumbuhan cukup tinggi. Sekretaris Perusahaan BNI Ryan Kiryanto mengatakan, perseroannya mampu mencapai pertumbuhan kredit double digit pada tahun depan atau lebih baik dari realisasi tahun ini yang diperkirakan single digit.

"Potensi pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada 2017 akan relatif lebih baik kalau dibandingkan tahun ini. Tahun depan, ada potensi pertumbuhan kredit akan menginjak double digit. Mungkin, kalau 11 persen saja rasanya masih bisa," terangnya.

Ia melanjutkan, ada faktor-faktor yang akan mendorong pertumbuhan kredit perbankan tahun depan lebih baik. Pertama, konsumsi rumah tangga yang diprediksi akan terus meningkat, yakni akan mampu tumbuh di atas 5 persen. Kondisi ini diyakini akan meningkatkan permintaan kredit di perbankan.

Sementara, target pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 akan berada pada kisaran 5,1 persen atau sedikit lebih rendah apabila dibandingkan dengan APBNP 2016 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 persen.

"Target pertumbuhan ekonomi tersebut paling realistis dan ideal. Dengan catatan, inflasi rendah. Inflasi tahun ini diperkirakan sekitar tiga persen, sangat rendah dan rekor yang baik. Lebih rendah, karena pemerintah tidak lagi memikirkan subsidi," papar Ryan.

Infrastruktur Jadi Harapan

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto mengungkapkan, sektor properti dan infrastruktur masih menjanjikan tahun depan. Proyek infrastruktur yang saat ini tengah dikebut oleh pemerintah diharapkan memberi kesempatan besar bagi perbankan untuk menggelontorkan pembiayaan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memaklumi, sepinya minat perbankan dalam pembiayaan infrastruktur selama ini. Soalnya, sifat investasi proyek infrastruktur yang membutuhkan waktu panjang, sementara dana-dana yang dihimpun oleh perbankan bersifat jangka pendek.

Karenanya, ia menuturkan, pemerintah akan memberikan kemudahan dan keuntungan investasi bagi perbankan untuk lebih berperan dalam pembiayaan infrastruktur tahun depan.

Hal ini sekaligus dalam rangka menyetop ketergantungan pembiayaan infrastruktur dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan BUMN.

Sebelumnya, pemerintah mematok anggaran infrastruktur tahun depan sebesar Rp387,3 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding anggaran infrastruktur dalam APBNP tahun ini yang sebesar Rp 317,1 triliun, sebagai stimulus fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Anggaran infrastruktur tersebut, terdiri dari anggaran infrastruktur ekonomi sebesar Rp377,8 triliun, infrastruktur sosial Rp5,5 triliun, serta dukungan infrastruktur sebesar Rp 4,1 triliun.

"Kami akan meyakini, proyek yang didorong oleh APBN itu akan kita buat feasibility studi yang baik dan minimum Internal Rate Return (IRR) nya minimum di sekitaran 13 persen. Jadi, tidak ada keraguan lagi untuk perbankan memberi kredit karena dia tahu, dengan IRR 13 persen atau lebih, pinjamannya pasti akan kembali," kata Bambang.

Sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memproyeksi dua sektor kredit, yaitu konsumer dan infrastruktur, bakal tumbuh double digit tahun depan. Optimisme ini berangkat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan yang mulai membaik.

Menurut Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI, kredit infrastruktur perseroan diproyeksi bertumbuh 14 persen di tahun depan. Tingginya proyeksi pertumbuhan infrastruktur ini disebabkan karena naiknya anggaran APBN 2017 untuk pembangunan infrastruktur.

Haru memperkirakan, secara industri, pertumbuhan kredit perbankan diproyeksi bisa tumbuh 10 persen sampai 12 persen tahun depan. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Pertama adalah karena dukungan pemerintah dan regulator terhadap pertumbuhan ekonomi dengan beberapa insentif.

Sementara untuk kredit konsumer BRI diproyeksi bisa tumbuh di atas 10 persen. "Hal ini karena sektor konsumer erat kaitannya dengan kebutuhan dasar manusia," ujar Haru.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk lain cerita lagi. Bank pelat merah nomor wahid dari sisi aset ini membidik pertumbuhan kredit korporasinya mencapai 14 persen atau stagnan dibandingkan tahun ini yang diprediksi meningkat 14 persen atua menjadi Rp220 triliun dari tahun sebelumnya, yaitu Rp189,2 triliun.

"Kalau di akhir tahun bisa ditutup di atas Rp220 triliun, kenaikan di tahun depan diharapkan dengan persentase yang sama di tahun ini. Yakni, 14 persen," tutur Senior EVP Corporate Banking Bank Mandiri Alexandra Askandar.

Sebagai gambaran, hingga kuartal ketiga 2016, Bank Mandiri telah membukukan realisasi penyaluran kredit korporasi sebesar Rp212,4 triliun atau 96,54 persen dari total target perseroan di sepanjang tahun. (bir/gen)