Jumlah Penduduk Miskin Berkurang, Tapi Kesenjangan Tinggi

Yuliyanna Fauzie | CNN Indonesia
Selasa, 03 Jan 2017 18:45 WIB
BPS mencatat, jumlah penduduk miskin hingga September 2016 menjadi 27,76 juta ketimbang Maret 2016 yang sebanyak 28,01 juta. BPS mencatat, jumlah penduduk miskin hingga September 2016 menjadi 27,76 juta ketimbang Maret 2016 yang sebanyak 28,01 juta. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) melansir jumlah penduduk miskin hingga September tahun lalu turun menjadi 27,76 juta orang apabila dibandingkan dengan Maret 2016 sebanyak 28,01 juta orang. Namun, keberhasilan pemerintah menekan angka kemiskinan itu dibayang-bayangi oleh tingginya kesenjangan antar penduduk di kawasan perkotaan dengan penduduk di pedesaan.

"Ini tantangan bagi pemerintah. Persoalan besar ini yang kita hadapi dan tidak berubah. Masih ada disparitas kemiskinan dan penduduk miskin masih lebih banyak di pedesaan," ungkap Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Selasa (3/1).

Survei BPS menyebutkan, dari total 27,76 juta penduduk miskin di Indonesia, sebanyak 62,24 persen atawa 17,28 juta orang berada di kawasan pedesaan. Sementara, sisanya 37,76 persen atau 10,49 juta penduduk miskin berada di perkotaan.


Hal ini menandakan jumlah penduduk miskin di kawasan pedesaan lebih banyak bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan penduduk miskin yang berada di perkotaan. Berdasarkan sebarannya antar pulau, penduduk miskin dominan bermukim di Maluku, serta Papua.

"Ini juga yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di tahun ini. Karena persebaran penduduk miskin tidak banyak berubah, masih lebih banyak di Maluku dan Papua," terang Suhariyanto.

Data BPS mencatat, sebanyak 21,98 persen penduduk miskin berada di Maluku dan Papua dengan jumlah mencapai 1,55 juta orang. Diikuti Bali dan Nusa Tenggara 14,72 atawa sebanyak 2,11 juta orang, Sulawesi 10,97 persen (2,09 juta orang), Jawa 10,09 persen (14,83 juta orang), Sumatra 11,03 persen (6,21 juta) dan Kalimantan 6,45 persen (0,97 juta).

Sebetulnya, dalam menekan angka kemiskinan dan kesenjangan pemerintah memberikan sejumlah program kepada masyarakat yang diwujudkan dengan pemberian dana desa. Data Kementerian Keuangan per 23 Desember 2016, pemerintah telah mencairkan sebanyak Rp681,4 triliun.

Dana desa itu dialokasikan sebagai transfer ke daerah dan dana desa untuk sejumlah program peningkatan desa, seperti pelatihan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, hingga pemberian fasilitas bagi penduduk di desa, termasuk pembangunan infrastruktur.

Sayang, Suhariyanto menilai, hal itu belum berdampak signifikan, sehingga pemerintah perlu memetakan kembali strategi baru untuk mengentaskan kemiskinan dan mempersempit jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

"Beberapa aliran dana memang diberikan, misalnya proyek infrastruktur, kami harapkan memang kelancaran akses. Itu pasti berpengaruh, tapi kita belum bisa lihat pengaruhnya (ke jumlah dan disparitas kemiskinan)," ucapnya.

Makanan Pengaruhi Garis Miskin

Garis kemiskinan selama Maret 2016-September 2016, BPS melansir, meningkat sekitar 2,15 persen, yaitu dari Rp354.386 per kapita per bulan pada Maret 2016 menjadi Rp361.990 per kapita per bulan pada September 2016.

Adapun, kelompok bahan makanan masih menjadi pengaruh terbesar terhadap garis kemiskinan di Indonesia, yakni mencapai 73,19 persen. Sedangkan, kelompok non-makanan menyumbang sekitar 26,81 persen.

"Beras masih menjadi komponen pertama sekitar 25 persen. Kontribusi lainnya adalah rokok. Harga rokok yang terus meningkat rupanya tak mempengaruhi konsumsinya, jumlah makin tinggi," imbuh Suhariyanto.

Kemudian, komponen daging sapi menjadi salah satu pengaruh yang mengejutkan pada garis kemiskinan. Komponen ini menjadi indikator ketiga yang berkontribusi pada garis kemiskinan. "Daging sapi muncul sebagai penyumbang garis kemiskinan karena bertepatan dengan momen Idul Adha," paparnya.

Secara rinci, beberapa komponen bahan makanan yang turut memengaruhi garis kemiskinan, yakni beras, rokok, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, bawang merah, tempe, dan tahu.

Sementara, dari komponen non-bahan makanan, pengaruh tertinggi diberikan untuk pemenuhan kebutuhan perumahan. Diikuti oleh tarif listrik, bensin, pendidikan, dan angkutan. (bir/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER