Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa meminta pemerintah menggeser target proyek pembangkit 35.000 MW ke 2022 dari sebelumnya diproyeksi pada 2019 nanti.
"Proyek 35.000 MW masuk akal. Tapi, rasionalisasi terhadap waktunya itu yang perlu dipertimbangkan. Mungkin, Presiden Joko Widodo bilang targetnya tetap, waktu pencapaiannya yang mungkin digeser ke 2021 atau 2022,” ujar Fabby, seperti dikutip dari ANTARA, kemarin.
Ia menuturkan, pemerintah seharusnya bisa melakukan penghitungan ulang kebutuhan listrik lantaran program 35.000 MW dengan asumsi pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen pada 2019 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, kemungkinan hanya pembangkit-pembangkit yang sudah mulai konstruksi pada 2015 hingga 2016 saja yang bisa beroperasi pada 2019.
Pemerintah tetap menargetkan proyek pembangunan pembangkit listrik mencapai 35.000 MW hingga tahun 2019 yang akan masuk dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
"Dalam RUEN telah diputuskan, walaupun untuk mencapai itu bukan persoalan mudah, Presiden dan Wapres tetap memutuskan itu, tetap merupakan target hingga 2019," terang Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, pekan lalu.
Pramono mengakui, dalam perhitungan, baik oleh PLN maupun pihak Kementerian ESDM kemungkinan hanya bisa dicapai kurang lebih 20.000-22.000 MW pada 2019. Tetapi, Presiden tetap menetapkan proyek listrik tetap ditargetkan 35.000 MW.
Menurut Presiden Jokowi, program listrik 35.000 MW bukan saja target tapi merupakan kebutuhan. "Kalau kelebihan saya kira juga tidak masalah, asalkan tidak terlalu banyak karena nanti akan membuat pemborosan di PLN,” terangnya.
Saat ini, konsumsi listrik di Indonesia masih rendah dibandingkan di negara lainnya, yaitu hanya 917 Kwh pada 2015. Sementara, di Vietnam sudah 1.715 Kwh, bahkan Singapura sudah 9.146 Kwh.
"Kalau kita ingin tumbuh cepat lagi melakukan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air, maka kebutuhan listrik akan meningkat,” pungkasnya.