Sri Mulyani Tak Puas dengan Kualitas Pertumbuhan Ekonomi RI

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Selasa, 10/01/2017 15:52 WIB
Sri Mulyani Tak Puas dengan Kualitas Pertumbuhan Ekonomi RI Pertumbuhan ekonomi RI sebesar 5 persen di tengah perlambatan ekonomi dunia, menurut Sri Mulyani tidak berarti jika ketimpangan kesejahteraan masih lebar. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah gejolak ekonomi dunia yang melambat, Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen pada kuartal III tahun lalu. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta anak buahnya untuk tidak berpuas diri atas pencapaian tersebut.

Menurutnya, saat ini Indonesia tengah dihadapi tiga isu utama yang menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi yakni kemiskinan, kesenjangan dan ketimpangan. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut, semakin tahun kemampuan Indonesia dalam mengatasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi semakin melemah. Akselerasi dalam menurunkan kemiskinan melalui instrumen fiskal pun semakin landai dan cenderung stagnan.

Sebagai informasi Badan Pusat Statistik (BPS) melansir jumlah penduduk miskin hingga September tahun lalu turun menjadi 27,76 juta orang apabila dibandingkan dengan Maret 2016 sebanyak 28,01 juta orang.


"Gini rasio kita 0,4 persen. Hal itu menunjukkan seberapa banyak kue ekonomi ini dinikmati oleh masyarakat. Akselerasi penurunan kemiskinan ini makin lama makin landai. Ini menggambarkan kemampuan kita dalam mendesain ekonomi untuk turunkan kemiskinan, itu semakin harus ditingkatkan," ujar Sri Mulyani saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Keuangan bertajuk Sinergi Untuk Negeri di Kantor Kemenkeu, Selasa (10/1)

Ia percaya, dengan pengelolaan keuangan negara yang kredibel dan akurat, Anggaran Pendapatan Negara dan Belanja (APBN) bisa menjadi instrumen fiskal yang andal menurunkan tiga indikator negatif tersebut. Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen, angka kemiskinan bisa ditekan dengan cepat.

Di samping itu, ia menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan peningkatan investasi di Sumber Daya Manusia (SDM) yang dinilai sebagai aset paling penting bagi suatu negara.

"Di negara manapun kalau dibandingkan, mereka yang punya kemakmuran adalah bercirikan manusianya yang berkualitas. Maka investasi dalam sebagai bentuk di SDM sangat penting. Wujudnya SDM yang berkualitas dan berdaya saing serta produktif juga inovatif," ujarnya.

Ia menuntut jajaran Kementerian Keuangan untuk bisa lebih strategis dalam mengarahkan tujuan penggunaan APBN agar lebih tepat sasaran. Apakah itu untuk meningkatkan inovasi, kapasitas produksi, infrastruktur, teknologi, atau membantu pendalaman pasar keuangan yang pangkalnya bisa membantu mengurangi kemiskinan maupun ketimpangan ekonomi.

"Memang tidak otomatis kurangi kemiskinan, kesenjangan, dan pengangguran. Kita tidak boleh hanya berpuas diri dg hanya pertumbuhan ekonomi yang baik. Kita harus terus bertanya apa kualitas pertumbuhan ekonomi itu mampu membenahi struktural kita," pungkasnya. (gen)