Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan, holding BUMN dianggap melanggar pasal 12 UU Persaingan Usaha. Pasal tersebut menyatakan, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup masing-masing perusahaan.
"Sebetulnya kami bisa masuk menyelidiki holding itu melalui pasal tersebut. Pasal ini kan rule of reason, bisa dibuktikan sebetulnya," ujar Syarkawi di kantornya, Jumat (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurutnya, implementasi holding BUMN ini berpotensi menimbulkan pengusaan pasar dan memperkecil persaingan usaha. Akibatnya, peluang sektor swasta dan koperasi untuk bersaing dengan BUMN semakin kecil.
"Dan ini sebenarnya yang sedang kami pikirkan. Bagaimana mencari cara yang baik agar dampak monopolisasi ini bisa ditekan. Kami hanya bisa memberikan rekomendasi terkait holding BUMN tidak merugikan," jelasnya.
Sebagai informasi, pemerintah sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas sebagai dasar pembentukan holding BUMN. (gen)