Dikutip dari Reuters, harga minyak belakangan ini memang disokong oleh pengaruh pembatasan produksi OPEC.
Namun, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak meningkat selama empat pekan berturut-turut. Apalagi, data menunjukkan bahwa pengeboran minyak di AS pekan lalu mencapai jumlah tertinggi sejak Oktober 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, tensi antara Iran dan AS tak mempengaruhi produksi minyak. Namun, terdapat kekhawatiran bahwa kondisi ini akan berkembang dan memberatkan ekspor dari Iran.
Hasilnya, harga minyak Brent berjangka turun US$1,09 ke angka US$55,72 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$0,82 ke angka US$53,01 per barel. Ini merupakan penutupan terendah sejak 31 Januari silam. (gir)