Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan, capex perusahaan pelat merah dan keuntungannya bakal memicu reinvestasi. "Capex BUMN punya yang namanya spill over effect. Efek sekunder atau kecipratan ke pelaku-pelaku usaha swasta," ujar Tom, sapaan akrabnya, Rabu (8/2).
Jika para pelaku usaha swasta mampu terangsang, lanjut Tom, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) diperkirakan akan terkerek, sehingga laju pertumbuhan investasi dapat meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila realisasi investasi tahun ini meningkat, laju pertumbuhan investasi diperkirakan kembali pulih naik dari tahun lalu yang melemah atau berada dikisaran 4,48 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,01 persen.
Terkait sektor yang mampu menarik investasi, Tom menilai, Indonesia memiliki banyak sektor yang mampu ditawarkan untuk mendapatkan investasi. Misalnya, sektor pariwisata.
Sektor ini, kata Tom, tengah menjadi primadona di hampir seluruh negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) karena menjadi alternatif destinasi wisata bagi para wisatawan mancanegara (wisman).
"Ada banyak tren di dunia, seperti pertumbuhan pariwisata regional, semua negara ASEAN, kunjungan wisata masih tumbuh pesat. Ini peluang yang sangat besar sekali," imbuh Tom.
Jika sektor pariwisata meningkat, pemerintah meyakini dampaknya dapat menggerakkan sektor jasa, seperti pembangunan hotel, resort, dan tempat hiburan. Bersamaan dengan itu, sektor penerbangan juga ikut melesat pertumbuhannya.
Jaga Sentimen
Meski memiliki sejumlah peluang untuk meningkatkan investasi, pemerintah rupanya memiliki tugas berat untuk mengurangi sentimen negatif dan menjaga iklim investasi yang kondusif.
Pasalnya, peluang reinvestasi dianggap akan sia-sia apabila Indonesia masih memiliki berbagai sentimen negatif, seperti situasi politik yang tengah memanas akhir-akhir ini.
Oleh karenanya, pemerintah perlu berupaya keras agar tensi situasi politik dapat kembali stabil. Di samping itu, pemerintah perlu terus membenahi regulasi yang dianggap Tom masih banyak mengalami tumpang tindih.
Kemudian, pemerintah juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk meredam isu ketenagakerjaan, baik dari sisi upah minimum hingga kualitas keterampilan. Terakhir, pembenahan pengenaan pajak yang lebih bersahabat bagi investor dan dunia usaha. (bir)