Bahana Revisi Naik Target Inflasi 2017 Jadi 4,4 Persen

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 17/02/2017 11:11 WIB
Kenaikan tekanan harga sudah tercermin pada inflasi Januari yang tercatat sebesar 0,97 persen secara bulanan atau sebesar 3,49 persen secara tahunan. Kenaikan tekanan harga sudah tercermin pada inflasi Januari yang tercatat sebesar 0,97 persen secara bulanan atau sebesar 3,49 persen secara tahunan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tekanan kenaikan harga-harga sudah menghantui Indonesia mengawali tahun ini ditengah-tengah pemulihan ekonomi yang masih berlanjut. Bahana Securities menilai curah hujan yang cukup tinggi bisa kembali memberi tekanan harga pada Februari dan Maret dan mengerek inflasi sepanjang 2017.

Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian mengatakan setelah Januari pemerintah menaikkan tarif untuk biaya perpanjangan STNK dan listrik, risiko tekanan harga-harga yang diatur oleh pemerintah meningkat.

“Belum lagi faktor cuaca buruk yang bisa menjadi ancaman gagal panen untuk beberapa bahan pokok,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/2).


Ia menjelaskan, kenaikan tekanan harga sudah tercermin pada inflasi Januari yang tercatat sebesar 0,97 persen secara bulanan atau sebesar 3,49 persen secara tahunan.

“Melihat risiko kenaikan harga-harga, Bahana merevisi naik perkiraan inflasi hingga akhir 2017 menjadi 4,4 persen dari prediksi sebelumnya sekitar 3,8 persen,” jelasnya.

Fakhrul menilai, inflasi pada Februari dan Maret memang kemungkinan akan lebih rendah dibanding Januari. Namun, karena curah hujan masih tinggi, terdapat kemungkinan panen beberapa bahan pokok terganggu, sehingga ke depannya masih terdapat tekanan harga.

“Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sudah tepat dengan melihat perkembangan inflasi dan kestabilan keuangan global,” tambah Fakhrul.

Bank Indonesia kemarin memutuskan BI 7-Days Repo Rate tetap sebesar 4,75 persen untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Level tingkat suku bunga ini dinilai Fakhrul masih cukup kondusif untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini.

“Rapat dewan gubernur juga terlihat semakin optimistis dengan pemulihan ekonomi yang terjadi secara global terutama didukung oleh AS dan China, diikuti dengan peningkatan harga komoditas global yang masih akan berlanjut,” katanya.

Pertumbuhan Ekonomi

Fakhrul menambahkan, pemulihan ekonomi global tersebut tentunya memberi dampak positif terhadap ekonomi domestik yang diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen-5,4 persen sepanjang tahun ini.

Hal itu terutama ditopang oleh masih kuatnya konsumsi swasta dan meningkatnya konsumsi pemerintah serta perbaikan investasi, sementara itu kontribusi ekspor yang membaik akan diiringi dengan kenaikan impor karena meningkatkan konsumsi masyarakat.

“Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi ditahun ini akan tercatat sebesar 5,3 persen,” jelasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan karena masih ada sejumlah risiko yang harus diwaspadai dari global.

Kewaspadaan itu terutama berasal dari kebijakan AS dan risiko geopolitik di Eropa, sedangkan dari dalam negeri bersumber dari penyesuaian harga-harga yang diatur pemerintah yang berdampak terhadap inflasi.

“Melihat masih tingginya tekanan harga kedepan serta optimisme terhadap pemulihan ekonomi semakin kuat, Bahana pun merevisi perkiraan suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate dan melihat ruang pelonggaran semakin terbatas dalam tahun 2017,” tukas Fakhrul.
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK