Bakrie Plantations Dapat Restu Reverse Stock jadi Rp1.000

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 20/02/2017 13:59 WIB
Bakrie Plantations Dapat Restu Reverse Stock jadi Rp1.000 Dengan reverse stock, 10 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham akan mengalami perubahan menjadi satu saham dengan nilai nominal Rp1.000 per saham. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) untuk melakukan penggabungan saham (reverse stock) dengan rasio 10:1 telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini, Senin (20/2).

Investor Relations Bakrie Sumatra Plantations Andi W. Setianto menjelaskan, dengan reverse stock dengan rasio tersebut, artinya 10 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham akan mengalami perubahan menjadi satu saham dengan nilai nominal Rp1.000 per saham.

"Iya, akhirnya kami mendapat persetujuan untuk melakukan reverse stock setelah melakukan tiga kali RUPSLB, akhirnya kami kuorum," ungkap Andi.


Ia menjelaskan, sebanyak 87,1 persen pemegang saham setuju dan sisanya memilih abstain dan tidak setuju dengan rencana tersebut.

Bila melihat harga saham Bakrie Sumatera pada hari ini yang masih bergerak pada level sekitar Rp50 per saham, dengan rasio reverse stock 10:1 maka harga saham Bakrie Sumatera dapat mencapai Rp500 per saham.

"Level Rp50 per saham itu kan karena tidur, jadi tidak bisa bergerak lagi. Makanya dengan reverse stock jadi harga saham terlihat yang wajarnya," terang dia.

Setelah melakukan reverse stock, perusahaan akan melakukan restrukturisasi utang yang diyakini akan memberikan dampak yang cukup baik bagi kinerja keuangan perusahaan.

Dengan berkurangnya utang, lanjut Andi, maka beban keuangan akan berkurang dan perusahaan dapat dengan leluasa menggunakan kas untuk kegiatan operasional perusahaan.

"Lebih banyaknya ketersediaan dana untuk kegiatan operasional kebun dan pabrik, tentu akan meningkatkan lagi produki sawit perusahaan," tutur Andi.

Asal tahu saja, total utang jangka panjang perusahaan sebesar Rp9,15 triliun. Dari total tersebut, utang terbesar berasal dari Credit Suisse yang mencapai Rp5,4 triliun.

Perbaikan Harga Sawit

Sementara itu, pihaknya pun optimistis harga komoditas sawit akan membaik pada tahun ini. Ia mencontohkan, pada Januari tahun lalu harga sawit berada di level US$530 per ton, sedangkan Januari tahun ini telah mencapai level US$730 per ton.

Selain itu, Andi mengaku perusahaan tengah melakukan inovasi berupa pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luas kebun yang sama.

Misalnya saja, dengan luas lahan sawit nasional yang sebesar 10 juta ha, total produksi hanya 30 juta ton sawit per tahun. Namun, dengan pembibitan unggul tersebut, diprediksi produksi sawit dapat tumbuh menjadi 80 juta ton per tahun.