Airlangga menilai, kegiatan uji coba produksi bahkan hingga nanti melakukan aktivitas produksi komersial dari Semen Indonesia pantas dilakukan, karena roda industri sangat berperan terhadap sektor infrastruktur yang saat ini tengah dikejar pemerintah.
"Kami sudah sampaikan bahwa kami mendukung pengembangan industri penunjang infrastruktur, seperti semen dan baja. Itu 'ibu' industri," ujarnya, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, Senin (20/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau industri sudah investasi, sudah dapat izin. Apalagi, investasinya Rp4 triliun, itu sudah harus jalan dong berarti," imbuh Airlangga.
Di sisi lain, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi, sehingga pemenuhan kebutuhan semen untuk masyarakat membuat masyarakat mengeluarkan konsumsi yang selanjutnya bisa mengerek pertumbuhan ekonomi.
Belum lagi, pemerintah juga terus berupaya agar keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yakni harga semen satu harga mampu diwujudkan sesegera mungkin.
Menurut Kepala Proyek Pabrik Semen Indonesia di Rembang Heru Indrawidjajanto, saat ini, perusahaan tengah melakukan uji coba produksi secara bertahap. Proses tersebut dimulai dari penambangan, pengambilan material, pemecahan material, pemasakan hingga produksi.
Untuk uji coba mesin produksi, ia menjelaskan, sementara ini masih menggunakan material yang didatangkan dari Tuban, Jawa Timur. "Kalau untuk proyek pembangunan sudah rampung 100 persen. Sekarang ini kita terus uji coba produksi, meski materialnya sementara pakai material yang didatangkan dari Tuban,” katanya.
Dalam masa uji coba produksi, pabrik semen di Rembang mampu menghasilkan sekitar enam ribu ton per hari. Apabila telah berproduksi secara resmi, diprediksi kapasitas produksinya per hari mampu mencapai 8.600 ton.
Apabila terus berjalan dengan kapasitas produksi tersebut, bukan tidak mungkin hasil produksi Semen Indonesia mampu mencapai 1,9 juta ton per tahun sampai Desember 2017 nanti.