Dana Pensiun Tempatkan Porsi Investasi di Saham 12 Persen

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 22/03/2017 04:52 WIB
Dana Pensiun Tempatkan Porsi Investasi di Saham 12 Persen Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menyatakan, porsi tersebut stagnan dari tahun lalu karena risiko di bursa saham dinilai masih terlampau tinggi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menyatakan, lembaga dana pensiun (dapen) masih akan menempatkan porsi yang sama dalam menempatkan portofolionya dalam investasi saham tahun ini, yakni sekitar 12 persen.

Direktur Eksekutif ADPI Bambang Sri Muljadi menuturkan, mayoritas dapen akan mencari investasi dengan risiko terendah. Sementara, investasi saham sendiri termasuk dalam risiko tertinggi dibandingkan investasi lainnya. Sehingga, saham masih belum begitu menarik meski imbal hasil (return) yang diberikan juga lebih tinggi dibandingkan yang lain.

"Karena gini, dapen sekarang kan mencari investasi yang tidak terlalu bergerak fluktuatif, tapi sustainable jadi terkendali. Untuk saham kami tidak naik tapi juga tidak turun, stagnan," papar Bambang, Selasa (21/3).


Total dana kelolaan dapen sendiri berjumlah Rp241,47 triliun hingga akhir Januari tahun ini. Porsi untuk di pasar modal sendiri sebesar 64,19 persen.

Secara rinci, untuk investasi di surat berharga negara (SBN) sebesar 23,71 persen, saham 12,6 persen, obligasi 20,43 persen, dan sukuk 0,81 persen,

Lalu reksa dana 6,3 persen, medium terms notes (MTN) 0,06 persen, Efek Beragun Aset (EBA) 0,22 persen, DIRE 0,05 persen. Kemudian, 26,89 persen ditempatkan dalam investasi pasar uang dan sisanya investasi lain-lain sebesar 8,92 persen.

Saat ini, total dapen yang tergabung di ADPI sendiri berjumlah 218 Dapen. Bambang menuturkan, dalam menyikapi penurunan bunga deposito maka akan ada peralihan investasi agar Dapen tetap memiliki return yang terbaik.

Menurutnya, dapen akan memilih investasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito tetapi tetap dengan pergerakan yang stabil misalnya seperti, obligasi korporasi dari perusahaan milik pemerintah.

"Ya kalau tidak Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN), ya ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kemudian juga infrastruktur, " imbuhnya.

Namun demikian, ia tak menapik jika dapen dengan dana kelolaan yang tinggi atau lembaga dapen besar akan agresif ke pasar modal. Umumnya, Dapen dengan dana kelolaan kecil tidak akan berani karena kapasitas perusahaan yang masih rendah.

"Lalu juga tingkat pengetahuan yang rendah tentang saham," terangnya.


BACA JUGA