Jonan Pastikan Harga Premium-Solar Tak Berubah Sampai Juni

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 24/03/2017 13:39 WIB
Jonan Pastikan Harga Premium-Solar Tak Berubah Sampai Juni Menteri ESDM Ignasius Jonan menyebut keputusan pemerintah menahan harga jual BBM penugasan untuk menutupi kerugian Pertamina. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan jenis Premium dan Solar tidak akan berubah dalam jangka April hingga Juni mendatang.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, upaya itu ditempuh pemerintah karena harga eceran BBM tidak diturunkan saat harga minyak mencapai level US$40 per barel di tahun lalu.

Sehingga, Pertamina memiliki cadangan dana yang bisa digunakan untuk menambal defisit antara harga yang ditetapkan pemerintah dengan harga keekonomian BBM Pertamina.


"Harga BBM yang dikendalikan Pemerintah, seperti Premium, Solar, dan minyak tanah diusahakan April sampai Juni tidak akan naik. Karena tahun lalu, waktu harga minyak turun dibawah US$ 40 per barel, harga eceran BBM-nya tidak kita turunkan. Jadi ada cadangan yang di Pertamina itu bisa digunakan pada saat harga minyak mentah itu naik," jelas Jonan, Jumat (24/3)

Melengkapi ucapan Jonan, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan, harga BBM seharusnya ditahan di level saat ini untuk menjaga kestabilan makroekonomi nasional. Meski ia mengakui bahwa harga BBM yang dijual saat ini berada di bawah keekonomian Pertamina.

Meski demikian, ia yakin Pertamina tak lama-lama menanggung rugi karena harga minyak kembali terjun. Di awal tahun, harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing tercatat US$55,47 per barel dan US$52,33 per barel. Sementara itu, per hari ini, harga Brent dan WTI masing-masing tercatat US$50,56 per barel dan US$47,7 per barel.

"Kalau lihat tren harga minyak memang menurun. Hanya saja, perlu dikaji lagi sampai sejauh mana penurunan harga minyak ini akan berhenti di angka berapa," jelasnya.

Jonan Pastikan Harga Premium-Solar Tak Berubah Sampai JuniPertamina mengaku defisit berjualan Premium sebesar Rp601 miliar dan defisit Rp3,45 triliun dalam menjual Solar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)


Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina M. Iskandar mengatakan, cadangan dana Pertamina dari menjual BBM di atas harga penugasan pemerintah sepanjang tahun lalu sebesar Rp2 triliun sudah habis pada Januari tahun lalu. Alasannya, harga minyak terus menanjak dan menembus angka US$50 per barel sejak Oktober tahun lalu. Asumsi itu dianggapnya tak sesuai dengan asumsi perusahaan sebesar US$45 per barel.

Iskandar mengaku belum menghitung kerugian berjualan Premium dan Solar sepanjang kuartal I 2017 karena masih melakukan konsolidasi perhitungan internal. Namun, menurut simulasi perusahaan, Pertamina bisa mengalami defisit berjualan Premium sebesar Rp601 miliar dan defisit Rp3,45 triliun dalam menjual Solar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

"Perhitungan ini pastinya masih kami konsolidasi, karena kan ini harga dari setiap daerah di Indonesia. Setidaknya kerugian ini tidak separah tahun 2015 silam, di mana kami pernah rugi berjualan BBM sebesar Rp80 miliar per harinya," jelas Iskandar, kemarin.

Menurut Peraturan Menteri ESDM no. 39 tahun 2015, penyesuaian harga BBM penugasan dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan mempertimbangkan rata-rata harga mean of plats Singapore (MOPS), harga minyak dunia, dan nilai tukar dolar AS dengan kurs beli Bank Indonesia (BI).

Evaluasi terakhir dilakukan pada 1 Januari 2017, sehingga peninjauan penyesuaian harga BBM seharusnya akan dilakukan pada 1 April 2017 mendatang. Pada penyesuaian lalu, harga Premium tetap dipatok Rp6.450 per liter dan harga Solar sebesar Rp5.150 per liter, di mana harga sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).