BI: Nilai Tukar Refleksikan Fundamental Perekonomian

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 28/04/2017 06:54 WIB
BI: Nilai Tukar Refleksikan Fundamental Perekonomian Volatilitas rupiah saat ini tidak terlalu tinggi, yaitu hanya di kisaran dua hingga tiga persen. Karenanya, BI tidak banyak melakukan intervensi. (REUTERS/Beawiharta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini mencerminkan fundamental perekonomian nasional. Data BI melansir, rupiah berada pada level 13.299 pada kurs tengah hari ini.

"Sekarang ini (kurs rupiah terhadap dolar AS) mencerminkan fundamentalnya dan itu ada di kisaran Rp13.200-Rp13.400 per dolar AS," tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo saat ditemui di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kamis (27/4).

Agus menilai, rezim nilai tukar rupiah relatif fleksibel. Namun demikian, BI tidak akan membiarkan volatilitas rupiah terlalu tinggi, sehingga tak mencerminkan fundamental perekonomian.


Menurutnya, volatilitas rupiah saat ini tidak terlalu tinggi, yaitu hanya di kisaran dua hingga tiga persen. Karenanya, BI tidak banyak melakukan intervensi. "Kalau dibandingkan dua tahun lalu, volatilitas rupiah bisa 18 persen," katanya.

Sepanjang kuartal I 2017, tekanan terhadap kurs rupiah relatif terjaga. Rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan menguat. Secara tahun berjalan (year to date), sepanjang tiga bulan pertama ini, rupiah terapresiasi 1,09 persen atau menguat dari Rp13.473 menjadi Rp13.326 persen.

Adapun, dari sisi eksternal, hal itu ditopang oleh persepsi positif pelaku pasar menyusul menurunnya risiko global, seiring dengan relatif terbatasnya dampak dari kenaikan suku bunga acuan AS pada Maret lalu, serta peningkatan harga komoditas global sejak kuartal IV 2016.

Dari sisi domestik, dinamika rupiah ditopang oleh sentimen terkait optimisme terhadap prospek ekonomi domestik yang ditopang dengan stabilitas makroekonomi dan solid, termasuk masuknya aliran modal asing.

"Kita lihat ke depan, kalau inflasi tetap terjaga, defisit transaksi berjalan terjaga, neraca perdagangan terjaga, pertumbuhan ekonomi terjaga, pertumbuhan ekonomi baik, tentu ini akan membuat fundamental kita lebih baik lagi," pungkasnya.