Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, nantinya pemerintah akan menawarkan beberapa proyek di dua atau tiga lokasi unggulan. Sampai saat ini, pemerintah belum menentukan lokasi yang dimaksud. Namun, tiga fokus wilayah ini bisa ditentukan selepas Rapat Koordinasi di tingkat Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman hari Jumat mendatang.
"Di dalam KTT tersebut, kami memiliki visi mengenai kawasan atau wilayah terpadu di mana kami menyodorkan nilai proyek mencapai puluhan miliar Dollar AS. Namun, pemerintah harus memilih dua atau tiga wilayah yang jadi prioritas," jelas Thomas, Rabu (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, secara umum, delegasi Indonesia nantinya akan mempromosikan proyek-proyek yang berkaitan dengan poros maritim dan sedianya bisa diintegrasikan dengan program OBOR. "Untuk lebih detilnya ini nanti akan dibicarakan di rapat-rapat kabinet," jelasnya.
Menurutnya, sejauh ini investasi China yang berkaitan dengan OBOR yang masuk ke Indonesia baru di bawah US$5 miliar. Investasi ini terdiri dari kucuran dana bagi kereta cepat Jakarta-Bandung sekitar US$1 miliar dan limpahan dana dari China Development Bank (CDB) ke tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masing-masing sebesar US$1 miliar.
"Jika infrastruktur berkembang, maka daya saing investasi Indonesia bisa menjadi lebih baik. Sehingga, OBOR di China ini sangat penting bagi Indonesia," paparnya.
OBOR merupakan upaya China dalam membangkitkan jalur sutera modern yang mencakup 60 negara. Proyek ini digadang sebagai proyek infrastruktur terbesar di abad ke-21 dengan estimasi nilai proyek mencapai US$300 miliar hingga US$500 miliar.
Menurut data BKPM, realisasi investasi China di Indonesia mencapai US$2,65 miliar atau 9,15 persen dari total realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang tahun 2016 seebsar US$28,96 miliar.