Pertamina Terima Tiga 'Lamaran' Garap Blok Terminasi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 19/05/2017 13:46 WIB
Pertamina Terima Tiga 'Lamaran' Garap Blok Terminasi PT Pertamina (Persero) mengaku mendapatkan tiga proposal dari perusahaan migas yang tertarik bermitra dalam mengelola delapan blok migas terminasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) mengaku mendapatkan tiga proposal dari perusahaan migas yang tertarik bermitra dalam mengelola delapan blok migas terminasi yang diberikan pemerintah pada awal tahun lalu.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam tidak merinci nama-nama perusahaan serta blok-blok migas yang diminati calon mitra tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa Pertamina sangat membuka peluang untuk menjalin mitra di dalam mengoperasikan delapan blok yang dimaksud.

"Hingga hari ini, saya menemukan ada tiga perusahaan yang berminat menjadi mitra Pertamina di dalam pengelolaan blok-blok penugasan pemerintah," jelas Syamsu di sela-sela Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2017, Kamis (18/5).


Ia melanjutkan, Pertamina membutuhkan mitra untuk mengurangi beban finansial yang perlu ditanggung.

Pasalnya, Pertamina tidak bisa menjalankan blok-blok penugasan secara swadaya karena kontraknya menggunakan sistem baru, yaitu kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Gross Split dan ada pembebanan investasi tambahan melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 26 Tahun 2017.

Dalam mencari mitra, Pertamina sebelumnya sudah menawarkan kemitraan dengan kontraktor-kontraktor sebelumnya yang menjalankan blok-blok terminasi. Setelah itu, Pertamina bisa mencari mitra dengan skema business-to-business (B-to-B).

"Terlalu susah jika kami mengerjakannya sendiri, maka kami merasa belum siap harus mengelola delapan blok secara mandiri. Menurut kalkulasi kami, tentu saja kami butuh mitra. Pertama kami tawarkan ke kontraktor sebelumnya, lalu cari mitra dengan skema B-to-B," papar Syamsu.

Menurutnya, mengelola delapan blok terbilang sulit di tengah kondisi harga minyak yang masih kurang baik. Sehingga, di sisi hulu migas, perusahaan fokus untuk melakukan efisiensi biaya operasional.

Syamsu mengatakan, efisiensi itu bisa saja dilakukan jika Pertamina hanya melanjutkan pengelolaan blok Offshore North West Java (ONWJ) saja.

Namun, setelah mendapatkan penugasan untuk delapan blok baru ini, Pertamina perlu pikir panjang untuk menentukan biaya investasi yang sekiranya tidak membuat kantong perseroan jebol.

Maka dari itu, Pertamina meminta tambahan waktu kepada pemerintah untuk menghitung keekonomian blok-blok migas ini sebelum melangkah ke penandatangan PSC baru.

"Saya kira kalkulasi ini masih challenging, makanya kami minta tambahan waktu satu bulan ke pemerintah untuk mengevaluasi keekonomian blok migas," lanjut Syamsu.

Sebagai informasi, pada awal tahun lalu, pemerintah melakukan terminasi kontrak atas delapan WK migas. Setelah diterminasi, pemerintah menunjuk Pertamina untuk mengelola blok-blok migas tersebut. Rencananya, kontrak bagi delapan blok ini akan menganut rezim kontrak bagi hasil produksi Gross Split.

Dari delapan blok migas tersebut, lima diantaranya merupakan peralihan dari kontraktor yang berbeda. WK migas itu terdiri dari blok Sanga-Sanga yang dioperatori Virginia Indonesia Co LLC, blok South East Sumatera yang dioperatori CNOOC SES Ltd, blok Tengah oleh Total E&P Indonesie, blok East Kalimantan yang dioperatori Chevron Indonesia Company, dan blok Attaka yang sebelumnya dioperatori Inpex Corporation.

Sementara itu, tiga blok lain yang terdiri dari blok North Sumatera Offshore (NSO) dan dua blok berbentuk Joint Operating Body (JOB) Tuban dan Ogan Komering sebelumnya sudah dikerjakan oleh Pertamina.