Pertemuan itu tidak lain untuk merayu perusahaan migas agar mau mengikuti lelang 15 Wilayah Kerja (WK) yang dibuka tahun ini. Sebanyak 52 perusahaan yang diundang memiliki skala usaha kelas kakap, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun produksinya.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan, perusahaan ini diundang karena dianggap bonafide, namun tidak pernah mengikuti lelang blok migas. "Dikatakan perusahaan besar lantaran memang secara produksi dan kapitalisasi pasarnya besar," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sistem jemput bola ini pertama kali dilakukan oleh Kementerian ESDM demi menarik investasi migas. Karena, selama ini, lelang blok migas memang banyak peminat. Hanya saja, lelang ini tidak menghasilkan pemenang satu pun.
Selain menawarkan blok migas, pemerintah mengaku, mendapatkan masukan berharga mengenai hal-hal yang bisa membuat bisnis migas menjadi atraktif. Sebagian besar perwakilan perusahaan yang hadir bertanya dari sisi teknikal dan komersial lapangan-lapangan migas yang dilelang.
Sebagai informasi, pemerintah melelang 15 Wilayah Kerja (WK) migas yang diresmikan pada helatan Indonesian Petroleum Association (IPA Convex) Mei lalu. Adapun, 15 blok itu terdiri dari 10 WK konvensional dan lima WK non-konvensional.
Sebanyak 10 WK konvensional itu terdiri dari dari Andaman I, Andaman II, South Tuna, Merak-Lampung, Pekawai, West Yamdena, Kasuri III, Tongkol, East Tanimbar; dan Mamberamo. Sementara itu, lima WK non-konvensional Jambi I, Jambi II, West Air Komering, Bungamas, dan Raja.