BI: Pemerintah Tahan Belanja Demi Jaga Defisit APBN

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Minggu, 09/07/2017 04:46 WIB
BI: Pemerintah Tahan Belanja Demi Jaga Defisit APBN Penghematan anggaran dengan cara tidak mencairkan (self blocking) akan menjaga defisit fiskal tidak melebihi ketentuan, 3 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai instruksi penghematan belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp16 triliun dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencerminkan pengelolaan fiskal yang baik, demi menjaga batas defisit.

Pasalnya, penghematan anggaran dengan cara tidak mencairkan (self blocking) akan menjaga defisit fiskal tidak melebihi ketentuan, 3 persen.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah memperkirakan defisit di akhir tahun akan ada di level 2,67 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau melebar dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, 2,41 persen dari PDB. Bahkan,dalam rancangan APBN perubahan tahun ini defisit diperkirakan mencapai 2,92 persen PDB.


"Kalau tadi pemerintah melakukan self blocking itu untuk meyakinkan bahwa defisit kita tidak melebihi jumlah tertentu. Kalau misalnya defisit pemerintah di anggaran itu 2,4 persen dan sekarang akan dijaga di bawah 2,6 persen, itu menunjukkan pengelolaan budget yang sehat," tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo di kompleks BI, Jumat (7/7).

Menurut Agus, self-blocking penggunaan anggaran sudah lama berlaku di Indonesia dan merupakan bentuk efisiensi. Selama ini, belanja pemerintah juga tidak pernah terealisasi sepenuhnya. Secara rata-rata, realisasi belanja K/L hanya berkisar 90-92 persen dari total anggaran per tahun.

Perbaikan pengelolaan fiskal sendiri telah diapresiasi oleh lembaga pemerinkat internasional Standard and Poor's dengan menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi (layak investasi).

Indonesia, lanjut Agus, memiliki pekerjaan rumah dalam hal pengelolaan fiskal terutama dalam hal mendorong penerimaan, pengelolaan defisit fiskal,dan menajemen utang yang lebih sehat.

"Standard & Poor's pada waktu memberikan investment grade percaya bahwa fiskal itu lebih baik dan tentu merekomendasikan agar pengelolaan fiskal bisa lebih baik ke depan," ujar Agus.

Secara umum, Agus meyakinkan bahwa indikator perekonomian dalam kondisi baik. Meskipun pemerintah memangkas belanja K/L, BI tetap meyakini pertumbuhan ekonomi tahun ini akan ada di titik tengah kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

Capaian itu ditopang kuatnya konsumsi masyarakat yang kuat, pertumbuhan investasi yang lebih baik dari tahun lalu, dan perbaikan ekspor dan impor seiring membaiknya harga komoditas. (gir/gir)