Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, dari sisi global, pemulihan ekonomi terlihat dari membaiknya pertumbuhan sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS), negara-negara di kawasan Uni Eropa, Jepang, China, Thailand, dan Malaysia.
"Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 mereka lebih baik dibandingkan kuartal I 2016. Meski tidak berarti semuanya sudah membaik karena Korea Selatan, Filipina, India, malah sedikit lebih rendah," ucap Darmin saat rapat kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR), Kamis (6/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun peningkatan volume perdagangan tersebut, sambung Darmin, menjadi satu pertanda bahwa ekonomi Indonesia juga akan bergerak baik. Pasalnya, ada indikasi bahwa ekspor akan lebih meningkat dibandingkan saat ini, yang sebetulnya, sudah menggeliat sejak awal tahun.
"Tadinya kita pincang karena ekspor-impor negatif sekian tahun terakhir. Tapi di kuartal I, semuanya mulai positif," tutur Darmin.
Dengan pertimbangan tersebut, Darmin mengatakan bahwa pemerintah optimistis mengerek target pertumbuhan ekonomi menjadi 5,2 persen. Adapun dari segi indikator, menurutnya, hampir semua indikator akan meningkat kontribusinya kepada pertumbuhan.
(CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi) |
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) diprediksi mencapai 5,1 persen di R-APBNP 2017 dari sebelumnya 5,0 persen. Sedangkan sampai kuartal I 2017, pertumbuhan indikator ini baru mencapai 4,93 persen.
Lalu, indikator ekspor diperkirakan menggeliat dengan pertumbuhan mencapai 4,8 persen dari sebelumnya hanya 0,1 persen dan impor diramal bisa tumbuh hingga 3,9 persen dari sebelumnya 0,2 persen. Sehingga hasilnya, dari sisi perdagangan menorehkan surplus.
Kendati begitu, Darmin memproyeksikan bahwa pertumbuhan indikator konsumsi pemerintah justru terpaksa melambat, yaitu hanya sekitar 4,6 persen sampai akhir tahun, dibandingkan proyeksi awal tahun yang diharapkan mampu tumbuh 4,8 persen.
"Sebenarnya konsumsi pemerintah kami perkirakan sedikit membaik tapi masih di bawah target APBN," kata Darmin.
Menurutnya, hal ini lantaran pemerintah melakukan penghematan sekitar Rp16 triliun dari seluruh pos anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) di R-APBNP 2017. Pemangkasan anggaran dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan anggaran yang membengkak untuk anggaran subsidi energi mencapai Rp25,8 triliun.
Investasi
Terakhir, indikator Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau realisasi investasi, diperkirakan juga terpaksa mengalami perlambatan, yaitu hanya tumbuh 5,4 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya mencapai 6,0 persen.
Pasalnya, sekalipun telah mendapat rating layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat, yaitu Standard and Poor's (S&P), Moody's, dan Fitch. Namun, aliran investasi tak semata-mata akan banjir di tahun ini, begitu juga dengan realisasi investasinya.
"Pertumbuhan investasi yang tinggi membutuhkan dukungan komponen lain, baik dari pemerintah maupun swasta. Selain itu, butuh juga komitmen investasi asing, domestik, kebijakan, dan kondisi ekonomi dari negara maju dan berkembang," jelas Darmin.
Lalu, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan sebesar 5,2 persen dari sebelumnya 5,5 persen, nilai tukar atau kurs rupiah sebesar Rp13.400 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.300 per dolar AS, dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Palm Oils/ICP) sebesar US$50 per barel dari sebelumnya US$45 per barel.
Sedangkan untuk lifting minyak dan gas bumi tak mengalami perubahan target, yaitu masing-masing sebesar 815 ribu barel per hari (bph) dan 1.15 juta barel setara minyak per hari.
(CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)