Edwin memaparkan, peluang kenaikan yang tinggi berlaku bagi Adaro Energy, Bukit Asam, dan Harum Energy. Sementara, untuk Indo Tambangraya sendiri hanya akan naik terbatas karena valuasinya yang sudah lebih mahal dari emiten tambang lainnya.
"Diproyeksi masih akan menguat karena memang kalau dibandingkan harga dan valuasi belum terlalu mahal," ungkap Edwin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(CNN Indonesia/Laudy Gracivia) |
"Pergerakan valuta asing (valas) dolar AS melemah, jika dolar AS melemah maka biasanya komoditas naik," kata Reza.
Reza menambahkan, meski pelaku pasar optimistis dengan laporan keuangan emiten tambang, tetapi sentimen tersebut hanya bersifat sementara untuk menarik pelaku pasar.
"Itu hanya sentimen sekali datang," imbuh Reza.
Adapun, harga komoditas yang cenderung fluktuatif juga membuat sektor tambang menarik dikonsumsi untuk jangka pendek dan menengah. Menurut Reza, data perekonomian global yang belum stabil akan membuat harga tambang mudah berubah.
Sementara, khusus untuk Bumi Resources hanya menarik untuk perdagangan harian. Pasalnya, pergerakan harga sahamnya masih berfluktuatif tinggi jika dibandingkan dengan emiten tambang lainnya.
(CNN Indonesia/Laudy Gracivia)