Gaji ke-13 Bikin Setoran Pajak Penghasilan Juli Melejit

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Rabu, 26/07/2017 13:53 WIB
Gaji ke-13 Bikin Setoran Pajak Penghasilan Juli Melejit Direktorat Jenderal Pajak menyebut penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Juli 2017 tumbuh 25 persen dibandingkan pada Juli 2016 lantaran gaji ke-13. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) menyebut penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Juli 2017 tumbuh 25 persen dibandingkan pada Juli 2016 lantaran gaji ke-13 yang dicairkan sepanjang bulan ini.

"Pembayaran gaji ke-13 di bulan ini. Tahun lalu kan gaji ke-13 nya di Juni," ujar Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak DJP Yon Arsal kepada CNNIndonesia.com, Selasa malam (25/7).

Selain itu, pertumbuhan PPh terjadi karena struktur penerimaan telah sama dengan Juli 2016. Pasalnya, sejak Juli tahun lalu, penerimaan PPh, khususnya PPh Pasal 21 untuk Orang Pribadi (OP) telah menyesuaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebesar Rp54 juta per tahun dari semula sebesar Rp36 juta per tahun.

Sedangkan sepanjang Januari-Juni 2017, pertumbuhan PPh 21 OP justru negatif dibandingkan Januari-Juni 2016 lantaran pada periode tersebut masih diberlakukan pungutan PPh 21 atas batas PTKP yang berbeda, yaitu batas PTKP Rp36 juta per tahun di Januari-Juni 2016 dan batas PTKP Rp54 juta per tahun mulai Juli 2016.


"Jadi, PPh 21 sudah mulai tumbuh positif karena PTKP-nya sudah apple to apple," kata Yon.

Kendati begitu, Yon belum bisa berbagi angka realisasi penerimaan PPh 21 tersebut. Namun, secara nominal, ia bilang, penerimaan PPh 21 Juli 2017 sudah meningkat sekitar Rp13 triliun dari perolehan bulan sebelumnya.

Sementara, secara tahun kalender (year-to-date/ytd), pertumbuhan penerimaan PPh 21 sepanjang Januari-Juli 2017 telah berkisar 12 persen atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Itu lumayan bagus karena dulu (Januari-Juli 2016) totalnya tumbuh minus 1,0 persen," imbuh Yon.

Hanya saja, secara keseluruhan pertumbuhan penerimaan PPh 21 dirasa belum mampu mengompensasi lemahnya pertumbuhan sebelumnya. Namun, Yon berharap pertumbuhan yang sudah mulai positif ini mampu menopang target penerimaan sampai akhir tahun, termasuk bila sudah menyertakan total penerimaan dari PPh Pasal 25 dan 29 serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, pertumbuhan penerimaan PPh 21 telah menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan dari wajib pajak. Adapun hal ini terwujud dari hasil penyelenggaraan program pengampunan pajak (tax amnesty).

"Itu adalah mereka yang membetulkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan dalam rangka tax amnesty maupun mereka yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) baru," kata Sri Mulyani.

Sedangkan sampai semester I 2017 lalu, penerimaan pajak telah mencapai Rp482,6 triliun, khususnya untuk PPh OP tercatat telah terkumpul sebanyak Rp61,4 triliun.

Angka itu berasal dari penerimaan PPh 21 sebesar Rp55,6 triliun atau turun 4,43 persen dari semester I 2016 sebesar Rp58,2 triliun dan penerimaan PPh 25/29 sebesar Rp5,8 triliun atau meningkat 55,5 persen dari semester I 2016 sebesar Rp3,7 triliun.

Adapun secara sektoral, penerimaan PPh minyak dan gas (migas) semester I 2017 sebesar Rp27,5 miliar dan PPh non-migas sebesar Rp286,7 triliun.