Ia memastikan, pungutan pajak tak akan diperbesar untuk sektor industri yang tengah mengalami pelemahan seperti industri ritel. Namun begitu, di sisi lain, untuk industri yang tengah mengalami pertumbuhan pesat, juga tak berarti akan dibebankan pajak tinggi. Menurutnya semuanya dijalankan dengan formulasi yang tepat.
Sri Mulyani mencontohkan, rencana yang sempat mencuat beberapa waktu lalu, yaitu perubahan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dari semula sebesar Rp54 juta per tahun menjadi sesuai dengan batas gaji karyawan yang diatur dalam formula Upah Minimum Provinsi (UMP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, di tengah pelemahan daya beli masyarakat yang turut membuat industri ritel lesu, rupanya realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Januari-Juni 2017 justru mengalami kenaikan sekitar 26,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, menjadi Rp191 triliun.
Pemerintah menurutnya juga akan mendengar masukan-masukan dari pelaku industri langsung dan juga manusia, sehingga dapat disesuaikan kebijakan perpajakan ke depan bersamaan dengan reformasi perpajakan yang ingin terus dilakukan tahapan demi tahapannya. (sur)