Untung Bersih Gudang Garam 'Mengepul' Jadi Rp3,12 Triliun

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 31/07/2017 13:18 WIB
Untung Bersih Gudang Garam 'Mengepul' Jadi Rp3,12 Triliun Laba bersih produsen Surya Pro Mild ini tumbuh 9,09 persen sepanjang semester I 2017, dari Rp2,86 triliun di periode yang sama tahun 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan kinerja positif sepanjang semester I 2017. Laba bersih perusahaan tumbuh 9,09 persen menjadi Rp3,12 triliun, dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp2,86 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kenaikan laba bersih perusahaan rokok yang dikenal dengan produk Gurang Garam International, Surya Pro Mild dan GG Mild ini didorong oleh pendapatan yang menanjak 8,87 persen menjadi Rp40,24 triliun dari Rp36,96 triliun.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pertumbuhan sebesar 9,09 persen untuk laba bersih dapat dikatakan diatas prediksi pasar. Pasalnya, laba bersih Gudang Garam diproyeksi hanya tumbuh sekitar 4 persen-5 persen pada paruh pertama ini.

"Karena ditengah banyaknya tantangan yang ada, dengan Gudang Garam bisa tumbuh saja sudah bagus," kata Reza kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/7).


Salah satu tantangan yang dimaksud Reza, seperti persaingan produk rokok itu sendiri dengan perusahaan lainnya, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

"Setiap segmen atau jenis rokok yang dikeluarkan pasti ada saingannya," imbuh Reza.

Selain persaingan produk, tantangannya lainnya berasal dari kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 9,1 persen dari sebelumnya 8,7 persen sejak awal tahun ini. Kemudian, rata-rata Cukai Hasil Tembakau (CHT) ditetapkan naik 10,54 persen, dan harga jual eceran (HJE) rokok rata-rata naik 12,26 persen.

"CHT akan membebani emiten tapi bebannya dibagikan ke konsumen, makanya ada varian produk baru untuk menambah pilihan masyarakat dan diharapkan volume penjualan meningkat," papar Reza.

Sepanjang semester I 2017, biaya pokok penjualan untuk pos pita cukai, PPN, dan pajak rokok memang terlihat mengalami kenaikan. Total biaya yang dikeluarkan untuk pos tersebut mencapai Rp24,26 triliun dari sebelumnya sebesar Rp21 triliun.

Sayang, pertumbuhan kinerja perusahaan tidak sejalan dengan pergerakan harga saham perusahaan. Pada penutupan sesi I hari ini, harga saham Gudang Garam anjlok 3,79 persen ke level Rp76.775 per saham.

Kendati demikian, Reza menilai, pergerakan harga saham perusahaan yang tidak jauh beda dengan tahun lalu mengindikasikan adanya potensi kenaikan ke level Rp90 ribu per saham sebelum akhir tahun.

"Juni tahun lalu di level sekitar Rp60 ribu per saham kemudian naik ke level sekitar Rp70 ribu per saham, setelah itu biasanya akan landai hingga akhir tahun," tutup Reza.