Mahardika Putranto, Head of Corporate Secretary Adaro Energy mengatakan, total produksi batu bara Adaro Energy untuk enam bulan pertama 2017 mencapai 25,13 juta ton, atau turun 3 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal kedua 2017, Adaro Energy memproduksi 13,27 juta ton batu bara melalui PT Adaro Indonesia (AI), PT Semesta Centramas (SCM), PT Laskar Semesta Alam (LSA) dan Adaro MetCoal Companies (AMC), atau sedikit meningkat dibandingkan 13,23 juta ton pada kuartal kedua 2016.
Pengupasan lapisan penutup untuk kuartal II 2017 turun 1 persen menjadi 57,02 million bank cubic meter (Mbcm) dibandingkan kuartal II 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, Adaro Energy memperkirakan peningkatan pengupasan lapisan penutup di kuartal-kuartal berikutnya serta menargetkan nisbah kupas gabungan rata-rata akan mencapai target sebesar 4,85x.
(CNN Indonesia/Gentur Putro Jati) |
Perseroan menyatakan, kuartal II 2017 diwarnai dengan volatilitas pasar batu bara yang dipicu oleh langkah kebijakan dan gangguan cuaca. Sentimen pasar negatif yang disebabkan oleh fenomena alam Topan Debbie yang melanda Australia pada akhir Maret juga mempengaruhi awal kuartal kedua.
Walaupun fenomena ini hanya berdampak terhadap wilayah produksi batu bara metalurgi, harga batu bara termal pun ikut menikmati manfaat dari sentimen pasar.
“Pasokan batu bara dari Indonesia terbatas karena hujan deras di negara ini berlanjut sampai kuartal kedua sehingga mengganggu produksi, pengangkutan dan pemuatan batu bara di beberapa wilayah, yang kemudian membatasi ketersediaan pasokan terhadap pasar lintas samudera,” jelas Mahardika.
Sementara, permintaan domestik bagi batu bara di Indonesia hingga Mei 2017 meningkat 14 persen secara tahunan karena ada beberapa pembangkit listrik yang mulai beroperasi.
Menurut PLN, rasio elektrifikasi Indonesia per akhir Juni 2017 mencapai 92,79 persen, atau naik dari 91,16 persen pada akhir Desember 2016, di periode yang sama, ada sekitar 1,7 gigawatt (GW) pembangkit listrik milik PLN dan IPP yang mulai beroperasi.
Untuk menjaga pasokan batu bara untuk pembangkit listrik Indonesia yang direncanakan, Pemerintah RI telah mengeluarkan instruksi untuk mengendalikan produksi batu bara Indonesia pada 400 Mtpa mulai tahun 2019.
(CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)