Konsumsi Rumah Tangga Mulai 'Lelah' Topang Ekonomi Bertumbuh

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 07/08/2017 13:58 WIB
Konsumsi Rumah Tangga Mulai 'Lelah' Topang Ekonomi Bertumbuh Sumbangan konsumsi rumah tangga pada PDB hanya sebesar 2,65 persen. Padahal di kuartal I 2017 dan kuartal II 2016 mencapai 2,72 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 yang mencapai 5,01 persen mengalami penurunan kontribusi dari indikator konsumsi rumah tangga.

Tercatat, sumbangan konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 2,65 persen. Padahal di kuartal I 2017 dan kuartal II 2016 mencapai 2,72 persen dari total PDB.

Sementara secara laju petumbuhan indikator, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,95 persen sepanjang kuartal II 2017. Pertumbuhan tersebut terbilang tipis dari kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen. Namun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2016 yang mampu mencapai 5,07 persen.


Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk mengatakan, pertumbuhan tipis dari konsumsi rumah tangga ini bukan pembenaran pada adanya pelemahan daya beli masyarakat yang kerap dikeluhkan oleh industri ritel.

Pasalnya, beberapa sektor konsumsi rumah tangga masih mengalami pertumbuhan dari kuartal I 2017.

Tercatat, konsumsi rumah tangga untuk sektor makanan dan minuman (mamin) selain restoran masih tumbuh 5,24 persen di kuartal II 2017 atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 sebesar 5,21 persen. Namun, lebih rendah dibandingkan kuartal II tahun lalu sebesar 5,26 persen.

Lalu, konsumsi sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya tumbuh 3,47 persen dari 3,3 persen di kuartal I 2017 dan 3,35 persen dari kuartal II 2016. Kemudian, konsumsi sektor restoran dan hotel sebesar 5,87 persen dari kuartal I 2017 sebesar 5,43 persen dan dari kuartal II 2016 sebesar 5,48 persen.

"Daya beli masyarakat masih kuat, bahwa konsumsi rumah tangga itu tidak melemah. Konsumsi rumah tangga semuanya masih tumbuh tinggi, tidak ada yang negatif," ucap Ketjuk di kantornya, Senin (7/8).

Konsumsi Melemah

Kendati demikian, konsumsi sektor perumahan dan perlengkapan rumah tangga melemah di angka 4,12 persen di kuartal II 2017. Padahal pada kuartal I 2017 tumbuh 4,14 persen dan tumbuh 4,72 persen di kuartal II 2016.

Begitu pula dengan konsumsi sektor kesehatan dan pendidikan yang pertumbuhannya hanya 5,4 persen, dari kuartal I 2017 sebesar 6,04 persen dan kuartal II 2016 sebesar 5,49 p​​ersen.

Terakhir, konsumsi sektor transportasi dan komunikasi juga tercatat melemah, hanya 5,32 persen di kuartal II 2017, dari sebelumnya 5,35 persen di kuartal I 2017 dan 5,51 persen di kuartal II 2016.

Namun, Ketjuk bilang bahwa pemerintah tetap perlu berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, khususnya masyarakat kalangan menengah ke bawah.

"Kita perlu beri perhatian pada masyarakat 40 persen terbawah, di mana upah riil buruh bangunan dan tani menurun, ada perlambatan di sektor industri yang menyangkut banyak tenaga kerja. Daya beli masyarakat menengah ke bawah harus ditingkatkan," terang Ketjuk.

Sementara itu, untuk daya beli masyarakat kalangan menengah ke atas, menurutnya masih tinggi meski melambat. "Ada indikasi penghasilan yang lebih tinggi, artinya bukan mereka penghasilannya berkurang tapi mereka tahan belanja, ini memperhatikan ekonomi global karena mereka lihat ini akan berpengaruh ke ekonomi Tanah Air," jelasnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sempat memperkirakan bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga akan mengalami penurunan lantaran penjualan dan transaksi industri ritel yang menurun sejak awal tahun ini, yang diduga karena terpengaruh lemahnya daya beli masyarakat.

Adapun puncak pelemahan daya beli terlihat pada momen Ramadan dan Lebaran yang jatuh di kuartal II 2017, yang biasanya justru mampu membukukan peningkatan penjualan dan transaksi ritel, namun tak terjadi di Mei-Juni lalu. Alhasil, ia memperkirakan pertumbuhan ritel semester I 2017 di bawah 5,0 persen.

"Kalau dibandingkan jauh sekali karena kuartal I kita lemah. Lalu kuartal II yang diharapkan bisa pulih dengan adanya sentimen lebaran, justru tak ada hasil," kata Ketua Aprindo Roy Mandey.