Tercatat, sumbangan konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 2,65 persen. Padahal di kuartal I 2017 dan kuartal II 2016 mencapai 2,72 persen dari total PDB.
Sementara secara laju petumbuhan indikator, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,95 persen sepanjang kuartal II 2017. Pertumbuhan tersebut terbilang tipis dari kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen. Namun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2016 yang mampu mencapai 5,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, konsumsi sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya tumbuh 3,47 persen dari 3,3 persen di kuartal I 2017 dan 3,35 persen dari kuartal II 2016. Kemudian, konsumsi sektor restoran dan hotel sebesar 5,87 persen dari kuartal I 2017 sebesar 5,43 persen dan dari kuartal II 2016 sebesar 5,48 persen.
Konsumsi Melemah
Kendati demikian, konsumsi sektor perumahan dan perlengkapan rumah tangga melemah di angka 4,12 persen di kuartal II 2017. Padahal pada kuartal I 2017 tumbuh 4,14 persen dan tumbuh 4,72 persen di kuartal II 2016.
Begitu pula dengan konsumsi sektor kesehatan dan pendidikan yang pertumbuhannya hanya 5,4 persen, dari kuartal I 2017 sebesar 6,04 persen dan kuartal II 2016 sebesar 5,49 persen.
Namun, Ketjuk bilang bahwa pemerintah tetap perlu berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, khususnya masyarakat kalangan menengah ke bawah.
"Kita perlu beri perhatian pada masyarakat 40 persen terbawah, di mana upah riil buruh bangunan dan tani menurun, ada perlambatan di sektor industri yang menyangkut banyak tenaga kerja. Daya beli masyarakat menengah ke bawah harus ditingkatkan," terang Ketjuk.
Adapun puncak pelemahan daya beli terlihat pada momen Ramadan dan Lebaran yang jatuh di kuartal II 2017, yang biasanya justru mampu membukukan peningkatan penjualan dan transaksi ritel, namun tak terjadi di Mei-Juni lalu. Alhasil, ia memperkirakan pertumbuhan ritel semester I 2017 di bawah 5,0 persen.
"Kalau dibandingkan jauh sekali karena kuartal I kita lemah. Lalu kuartal II yang diharapkan bisa pulih dengan adanya sentimen lebaran, justru tak ada hasil," kata Ketua Aprindo Roy Mandey.