Pertamina Diminta Tekan Belanja Modal Jambaran-Tiung Biru

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 08/08/2017 17:24 WIB
Pertamina Diminta Tekan Belanja Modal Jambaran-Tiung Biru Belanja modal ini ditekan demi harga gas Jambaran-Tiung Biru mencapai US$7,6 per MMBTU sesuai dengan kesepakatan antara Pertamina dan pembeli gas, yakni PT PLN (Persero). (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menginstruksikan PT Pertamina (Persero) untuk menekan belanja modal bagi pengembangan lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Biru.

Belanja modal ini ditekan demi harga gas Jambaran-Tiung Biru mencapai US$7,6 per MMBTU sesuai dengan kesepakatan antara Pertamina dan pembeli gas, yakni PT PLN (Persero).

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menerangkan, pada awalnya Pertamina mengajukan biaya pengembangan US$2,05 miliar untuk mengembangkan lapangan Jambaran-Tiung Biru sesuai rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) yang diajukan tahun 2015 silam.


Namun, pemerintah meminta penurunan belanja modal menjadi US$1,8 miliar karena harga gasnya terbilang masih mahal. Adapun, di dalam PoD yang diajukan, Pertamina sempat meminta harga gas sebesar US$8 per MMBTU dengan eskalasi dua persen per tahunnya.

"Karena harganya segitu, pemerintah minta diturunkan. Kalau biaya investasinya di angka US$1,8 miliar, harga di PLN sebagai operator belum masuk keekonomiannya. Kalau investasi di angka US$1,8 miliar, maka harga gasnya tidak bisa di bawah US$8 per MMBTU," ujarnya di Kementerian ESDM, Selasa (8/8).

Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah menurunkan lagi belanja modalnya US$250 juta agar harga gas bisa berada di bawah US$8 per MMBTU. Menurutnya, harga gas Jambaran-Tiung Biru harus bisa efisien, mengingat gasnya akan diserap PLN. Sehingga, BPP pembangkitan bisa lebih murah.

Sebagai informasi, rencananya PLN akan menggunakan gas Jambaran-Tiung Biru untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-Bali 3 dengan kapasitas 500 Megawatt (MW) dan PLTGU Tambak Lorok setelah pasokan gas dari lapangan Kepodang yang dikelola Petronas Carigali Ltd akan habis sesaat lagi.

"Kalau kami tidak bisa turunkan harga di hulu, maka BPP-nya PLN tidak akan turun," ungkapnya.


Saat ini, Pertamina dan PLN sudah menandatangani nota kesepahaman (Head of Agreement/HoA) terkait pembelian gas Jambaran-Tiung Biru. Ia berharap, Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) di antara keduanya dapat selesai dalam jangka sebulan ke depan.

"Kebetulan saya dengan tim dibantu Ditjen Migas, SKK Migas, BPH Migas, sehingga akhirnya Pertamina mau menurunkan capex lagi US$250 juta. Akhirnya, harganya sepakat dengan PLN flat sepanjang tahun sampai kontrak berakhir itu US$7,6 per MMBTU flat 30 tahun," paparnya.

Melengkapi ucapan Arcandra, Direktur Gas Pertamina Yenni Andayani mengungkapkan, harga gas hulu dari lapangan Jambaran-Tiung Biru kini mencapai US$6,7 per MMBTU selepas efisiensi.

Setelah itu, harga gas ditambah ongkos angkut (toll fee) sebesar US$0,9 per MMBTU, sehingga ia memastikan bahwa harga gas sebesar US$7,6 per MMBTU adalah harga di pembangkit (plant gate).

Setelah kesepakatan ini, ia berharap, pengembangan lapangan Jambaran-Tiung Biru bisa berjalan 26 bulan. Sehingga, proyek ini bisa selesai 2020 atau awal 2021 mendatang.

"Selain itu, kami juga sekaligus menunggu pipa gas Gresik-Semarang dimulai pertengahan 2018, sehingga gasnya bisa masuk ke pipa tersebut," kata Yenni.

Unitisasi lapangan Jambaran-Tiung Biru dimulai setelah pemerintah menyetujui revisi rencana pengembangannya tanggal 17 Agustus 2015 lalu. Menurut revisi tersebut, lapangan ini bisa menghasilkan gas sebesar 227 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan puncak produksi diperkirakan sebesar 315 MMSCFD.

Awalnya, gas Jambaran-Tiung Biru akan dipasok untuk pabrik Pupuk Kujang 1C. Namun, harganya ternyata tak ekonomis karena gas Jambaran-Tiung Biru mengandung karbon dioksida dan hidrogen sulfida sebesar 34 persen.