Inflasi Stabil, Jurus Utama Sri Mulyani Bangkitkan Daya Beli

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Selasa, 08/08/2017 21:15 WIB
Inflasi Stabil, Jurus Utama Sri Mulyani Bangkitkan Daya Beli Diakuinya bahwa sepanjang enam bulan pertama tahun ini, inflasi berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan berupaya lebih keras untuk menjaga kestabilan inflasi di paruh kedua tahun ini guna membangkitkan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi rumah tangga. Seperti diketahui, konsumsi rumah tangga hanya mampu tumbuh tipis 4,95 persen pada kuartal II 2017.

Menurut dia, inflasi sedikit banyak memengaruhi pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sebab, diakuinya bahwa sepanjang enam bulan pertama tahun ini memang inflasi berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Alhasil, inflasi memberi tekanan pada konsumsi rumah tangga khususnya di kuartal II lalu.

"Itu harus dilihat positif, tapi tetap berhati-hati karena konsumsi rumah tangga berdampak besar ke PDB (produk domestik bruto). Kami perlu perhatikan inflasi yang memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, maka itu menekan kuartal II," kata Sri Mulyani usai menghadiri acara di Grand Hyatt, Selasa (8/8).


Menurut mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu, pemerintah telah berkoordinasi lebih erat lagi untuk merumuskan langkah penjagaan inflasi. Sayang, ia tak membagi lebih rinci.

Namun, dengan koordinasi tersebut ia meyakini bahwa inflasi sampai akhir tahun masih akan sesuai dengan target sebesar 4,3 persen sesuai dengan asumsi makro di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017.

"Kami harap, inflasi tidak setinggi perkiraan awal, masih di bawah 4,0 persen. Kami harap, momentum untuk konsumsi rumah tangga akan muncul lagi kuartal III dan IV 2017," terang Sri Mulyani.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya tumbuh tipis 4,95 persen pada periode April-Juni 2017. Sedangkan di Januari-Maret 2017, konsumsi rumah tangga berada di angka 4,94 persen.

Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, sumbangan konsumsi rumah tangga di kuartal II lalu justru menurun dari semula 2,72 persen di kuartal I 2017 menjadi 2,65 persen.

Tak ayal, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 stagnan di angka 5,01 persen, seperti halnya yang terjadi di kuartal I 2017.