Menurut dia, inflasi sedikit banyak memengaruhi pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sebab, diakuinya bahwa sepanjang enam bulan pertama tahun ini memang inflasi berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Alhasil, inflasi memberi tekanan pada konsumsi rumah tangga khususnya di kuartal II lalu.
"Itu harus dilihat positif, tapi tetap berhati-hati karena konsumsi rumah tangga berdampak besar ke PDB (produk domestik bruto). Kami perlu perhatikan inflasi yang memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, maka itu menekan kuartal II," kata Sri Mulyani usai menghadiri acara di Grand Hyatt, Selasa (8/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dengan koordinasi tersebut ia meyakini bahwa inflasi sampai akhir tahun masih akan sesuai dengan target sebesar 4,3 persen sesuai dengan asumsi makro di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017.
Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, sumbangan konsumsi rumah tangga di kuartal II lalu justru menurun dari semula 2,72 persen di kuartal I 2017 menjadi 2,65 persen.
Tak ayal, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 stagnan di angka 5,01 persen, seperti halnya yang terjadi di kuartal I 2017.