Mangkir, Nasabah Berdikari Insurance Tagih Klaim Tertunggak

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Rabu, 09/08/2017 12:07 WIB
Mangkir, Nasabah Berdikari Insurance Tagih Klaim Tertunggak Klaim yang dijanjikan merupakan penutupan atas obyek asuransi kargo Trans Mikael oleh Berdikari Insurance dua tahun silam sebesar Rp1,7 miliar. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Trans Mikael Sejahtera, perusahaan logistik asal Surabaya, menagih komitmen PT Berdikari Insurance terkait pembayaran klaim yang tertunggak dari penilai kerugian Rp1,7 miliar. Klaim yang dijanjikan merupakan penutupan atas obyek asuransi kargo Trans Mikael oleh Berdikari Insurance dua tahun silam.

Johan Avie, Kuasa Hukum Trans Mikael menjelaskan, pada 31 Agustus 2015, kliennya mengajukan perlindungan asuransi kargo dengan premi Rp1 miliar. Polis asuransi pun terbit.

Lalu, pada 2 September 2015, KM Meratus Banjar 2 yang membawa kargo Trans Mikael tenggelam. Sebagai nasabah yang memiliki jaminan risiko, perusahaan mengajukan klaim.


"Klaim ini telah mendapatkan analisis dan penilaian dari tim adjuster yang menilai kerugian tersebut sebesar Rp1,7 miliar. Namun, selang satu tahun, Berdikari Insurance baru memberikan penjelasan bahwa pembayaran klaim akan dilakukan secara bertahap," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/8).

Adapun, skema yang ditawarkan, yakni tahap pertama pada 3 Januari 2017 sebesar Rp669,78 juta, tahap kedua pada 31 Januari 2017 sebesar Rp550 juta, dan terakhir 28 Februari 2017 sebesar Rp550 juta.

Sayang, janji tinggal janji. Direktur Utama Trans Mikael Tan Mikael Setiawan mengaku, Berdikari Insurance baru menggenapi tahap pertama dan tambahan sebesar Rp200 juta di luar skema yang dijanjikan.

"Sehingga, sampai saat ini, masih ada kekurangan Rp900 juta yang belum dibayar. Kami sudah melakukan penagihan, tapi Berdikari Insurance seperti tak memiliki itikad baik. Makanya, kami melapor ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga pengawas," imbuh dia.

Bawa ke Meja Ombudsman

Johan mengungkapkan, kliennya melaporkan kasus ini pertama kali ke OJK cabang Surabaya pada 5 Maret 2017. Namun, karena tak mendapatkan respon positif, ia memutuskan terbang ke Jakarta mengadu ke kantor pusat OJK pada 20 Juli 2017.

Sampai pada pertemuan ketiga, Trans Mikael tak mendapatkan respon positif dari OJK. Wasit industri keuangan itu, ia mengklaim, bahkan tak memberikan tenggat waktu untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan asuransi dengan nasabahnya itu.

"Kami agak kecewa, karena penanganannya lambat. Padahal, OJK punya kewenangan itu. Berdikari Insurance juga tidak ada itikad baik. Kalau buntu, kami akan bawa kasus ini ke Ombudsman," tegas Johan.

Pasalnya, permasalahan keterlambatan pembayaran klaim diakui telah mengganggu neraca keuangan perusahaan karena manajemen terpaksa menutup kerugian dari peristiwa tenggelamnya kargo perusahaan.