Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani menyampaikan, pembiayaan ini rencananya akan difasilitasi oleh lembaga kerja sama ekonomi Jerman, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIH). Namun, karena masih dalam masa penjajakan, ia belum bisa memastikan, sektor apa saja yang bisa mendapatkan bantuan tersebut.
"Intinya, tetap ingin UMKM, formatnya seperti apa sedang kami cari bersama-sama," ujarnya, Senin (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan pangsa pasar yang masih sangat besar, kerja sama di bidang UMKM tentu bisa berskala besar," imbuhnya.
Hingga saat ini, Kadin sudah mengidentifikasi 2.000 UMKM yang sedianya bisa didanai melalui kerja sama tersebut. Selain itu, UMKM lokal ini rencananya akan dimitrakan dengan UMKM asal Jepang, mengingat sebagian produksi UMKM domestik ini rencananya akan diserap oleh Jepang. Adapun pembiayaan ini disalurkan oleh organisasi UMKM Jepang, yakni SMRJ.
"Karena Jepang ini membiayai sektor otomotif ya, jadi produk UMKM Indonesia ini masuk menjadi supply chain perusahaan-perusahaan Jepang itu. Tak semuanya sih (dikirim ke Jepang), tetapi beberapa saja, karena syarat pembiayaannya seperti itu," terang dia.
Meski begitu, ia berharap, angka itu bisa berkembang jadi ratusan UMKM hingga akhir tahun nanti. "Mereka (pihak Jepang) sampai menaruh tiga orang di kantor Kadin demi melaksanakan program ini. Jadi, kami pun benar-benar tidak pasif," pungkas Rosan.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia hingga akhir tahun 2016 mencapai 59 juta unit. Angka ini meningkat 9,66 persen dibanding posisi tahun 2010 di mana UMKM tercatat 53,8 juta unit. (bir)