Analisis

Ketika RAPBN 2018 jadi Jamu Kuat Saham Barang Konsumsi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 21/08/2017 09:47 WIB
Kenaikan anggaran belanja pemerintah dalam RAPBN 2018 sukses membuat indeks sektor barang konsumsi melonjak hingga 6,35 persen pekan lalu. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kenaikan anggaran belanja pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 sukses membuat indeks sektor barang konsumsi melonjak hingga 6,35 persen pekan lalu.

Padahal, dua pekan sebelumnya indeks sektor tersebut terus terkoreksi akibat pelemahan daya beli masyarakat pada semester I 2017.

Pelemahan itu terlihat dari data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang mencatat pertumbuhan penjualan ritel secara industri turun menjadi 3,7 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 11,2 persen.


Beruntung, pasar mulai berpikir positif terkait ekonomi Indonesia tahun depan seiring dengan sikap optimis pemerintah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor barang konsumsi melejit ke level 2.518,118.


Sementara, dua pekan lalu sektor barang konsumsi masih berada di level 2.406,220 dan kembali melemah pada pekan selanjutnya ke level 2.367,872.

Analis Recapital Sekuritas Kiswoyo Adi Joe mengatakan, keputusan pemerintah yang kembali menaikan anggaran untuk infrastruktur menjadi perhatian pasar. Meski memang, pertumbuhannya terbilang tipis hanya 5,6 persen menjadi Rp409 triliun dari alokasi tahun ini sebesar Rp387,7 triliun.

Namun, kenaikan anggaran infrastruktur menjadi bukti pemerintah tetap fokus untuk menyelesaikan berbagai proyek yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangan Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

"Proyek infrastruktur kan padat karya, jadi butuh banyak sumber daya manusia (SDM). Nantinya jadi banyak tukang," ucap Kiswoyo kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

Dengan begitu, tingkat konsumsi masyarakat juga akan bertambah tahun depan. Pasalnya, jumlah masyarakat yang bekerja akan meningkat dan jumlah pengangguran menurun.

Jika tingkat konsumsi meningkat, maka target pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga ke level 5,4 persen pada tahun depan akan semakin mudah terwujud.

Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, tidak hanya belanja infrastruktur yang dapat menaikan daya beli masyarakat. Jumlah subsidi yang diberikan pemerintah juga akan memperbaiki kemampuan konsumsi masyarakat.

"Dengan subsidi semestinya ada kontribusi belanja konsumsi dari kelas menengah ke bawah," ucap Faisal.

Dalam RAPBN 2018, jumlah belanja pemerintah yang dialokasikan untuk subsidi energi sebesar Rp103,36 triliun, naik 15 persen dari proyeksi 2017 Rp89,86 triliun. Sementara, alokasi subsidi non energi diturunkan 12,65 persen dari Rp79,01 triliun menjadi Rp69,03 triliun.

Namun begitu, hal ini tidak serta merta menaikan daya beli secara signifikan. Target penerimaan pemerintah yang dinaikan sebesar 8,2 persen menjadi Rp1.878,4 triliun dari APBNP 2017 Rp1.736,1 triliun secara tidak langsung sedikit meresahkan kelas menengah dan kelas menengah ke atas.


Masalahnya, jelas Faisal, penerimaan pajak merupakan salah satu pendapatan negara. Dengan demikian, ada kekhawatiran dari kelas menengah dan menengah ke atas pihak perpajakan akan lebih agresif demi meningkatkan penerimaan.

"Ini bisa membuat kelas menengah menahan belanja," pungkas Faisal.
1 dari 2