Analisis

Ketika RAPBN 2018 jadi Jamu Kuat Saham Barang Konsumsi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 21/08/2017 09:47 WIB
Didorong Saham Berkapitalisasi Jumbo Dalam hal ini, ada beberapa saham barang konsumsi yang masuk dalam 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Didorong Saham Berkapitalisasi Jumbo

Pengamat pasar modal dari Buana Capital Suria Dharma menerangkan, kenaikan indeks sektor barang konsumsi ini imbas dari peningkatan kinerja saham berkapitalisasi besar (big capitalization). Dalam hal ini, ada beberapa saham barang konsumsi yang masuk dalam 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar.

Beberapa saham tersebut, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Pada perdagangan Jumat (18/8) lalu, nilai kapitalisasi pasar Sampoerna di level Rp435,02 triliun, kemudian Unilever Indonesia Rp377,49 triliun, dan 142,37 triliun.

"Pada Rabu (16/8) kemarin, ada rumor Moody's mau meningkatkan peringkat Indonesia, jadi ini ada antisipasi saham berkapitalisasi besar naik," ucap Suria.



Dengan kata lain, pelaku pasar langsung memanfaatkan momentum rumor tersebut untuk masuk kembali ke saham berbasis barang konsumsi. Nantinya, kenaikan saham berkapitalisasi besar juga akan diikuti kenaikan saham lapis kedua (second liner).

Sepanjang pekan lalu harga saham Sampoerna tumbuh hingga 10,65 persen ke level Rp3.740 per saham, kemudian, Unilever Indonesia naik 2,53 persen ke level Rp49.475 per saham, dan Gudang Garam tembus ke level Rp74 ribu per saham atau meningkat 10,77 persen.

Menurut Kiswoyo, pergerakan indeks sektor barang konsumsi umumnya akan sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini disebabkan, sektor tersebut menjadi pendorong IHSG nomor dua setelah sektor perbankan.

"Jadi 30 persen penyokong IHSG dari perbankan, nah barang konsumsi sekiar 15 persen-20 persen," terang Kiswoyo.

Sementara, saham berbasis perbankan dinilai sudah mahal saat ini. Alhasil, mayoritas pelaku pasar lebih banyak mengincar saham barang konsumsi untuk masuk ke saham berkapitalisasi besar.

Ketika RAPBN 2018 jadi Jamu Kuat Saham Barang Konsumsi(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Di sisi lain, pelaku pasar diproyeksi melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada pekan ini. Pasalnya, bukan hanya sektor barang konsumsi yang melonjak, melainkan juga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Indeks naik cukup signifikan sepanjang pekan lalu sebesar 2,21 persen ke level 5.893. Padahal, pekan sebelumnya IHSG terkoreksi 0,19 persen.

"IHSG mendekati level resistance-nya, ini rentan turun. Kalau IHSG turun maka indeks sektor barang konsumsi ikut turun," jelas Kiswoyo.

Tak hanya IHSG, beberapa harga saham barang konsumsi juga telah mendekati harga wajar. Misalnya saja, HMSP dengan harga wajar di level Rp4.000 per saham dan Unilever Indonesia Rp50 ribu per saham.

"Ini agak rentan karena sudah sedikit lagi mencapai harga wajar," imbuhnya.


Untuk itu, ia tak menyarankan pelaku pasar untuk melakukan aksi beli pada saham barang konsumsi pada pekan ini. Sementara, bagi pemilik saham barang konsumsi disarankan untuk segera menjualnya sebelum ada koreksi yang cukup signifikan.
HALAMAN :
1 2