Beberapa saham tersebut, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Pada perdagangan Jumat (18/8) lalu, nilai kapitalisasi pasar Sampoerna di level Rp435,02 triliun, kemudian Unilever Indonesia Rp377,49 triliun, dan 142,37 triliun.
"Pada Rabu (16/8) kemarin, ada rumor Moody's mau meningkatkan peringkat Indonesia, jadi ini ada antisipasi saham berkapitalisasi besar naik," ucap Suria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kata lain, pelaku pasar langsung memanfaatkan momentum rumor tersebut untuk masuk kembali ke saham berbasis barang konsumsi. Nantinya, kenaikan saham berkapitalisasi besar juga akan diikuti kenaikan saham lapis kedua (second liner).
Sepanjang pekan lalu harga saham Sampoerna tumbuh hingga 10,65 persen ke level Rp3.740 per saham, kemudian, Unilever Indonesia naik 2,53 persen ke level Rp49.475 per saham, dan Gudang Garam tembus ke level Rp74 ribu per saham atau meningkat 10,77 persen.
"Jadi 30 persen penyokong IHSG dari perbankan, nah barang konsumsi sekiar 15 persen-20 persen," terang Kiswoyo.
Sementara, saham berbasis perbankan dinilai sudah mahal saat ini. Alhasil, mayoritas pelaku pasar lebih banyak mengincar saham barang konsumsi untuk masuk ke saham berkapitalisasi besar.
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani) |
Indeks naik cukup signifikan sepanjang pekan lalu sebesar 2,21 persen ke level 5.893. Padahal, pekan sebelumnya IHSG terkoreksi 0,19 persen.
"IHSG mendekati level resistance-nya, ini rentan turun. Kalau IHSG turun maka indeks sektor barang konsumsi ikut turun," jelas Kiswoyo.
Tak hanya IHSG, beberapa harga saham barang konsumsi juga telah mendekati harga wajar. Misalnya saja, HMSP dengan harga wajar di level Rp4.000 per saham dan Unilever Indonesia Rp50 ribu per saham.
"Ini agak rentan karena sudah sedikit lagi mencapai harga wajar," imbuhnya.
Lihat juga: Mari Merdeka Secara Finansial! |
Untuk itu, ia tak menyarankan pelaku pasar untuk melakukan aksi beli pada saham barang konsumsi pada pekan ini. Sementara, bagi pemilik saham barang konsumsi disarankan untuk segera menjualnya sebelum ada koreksi yang cukup signifikan.
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)