LIPI menggunakan harga bahan pangan di Surabaya, Jawa Timur sebagai harga patokan dalam penelitian tersebut. Pasalnya, Surabaya merupakan basis pelabuhan proyek tol laut yang melayani pengiriman logistik ke 13 rute menuju Indonesia timur.
Adapun, barang logistik ini disalurkan ke sembilan provinsi yang tergolong sebagai wilayah Indonesia Timur yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Di samping itu, di dalam penelitian ini, LIPI mengkonversi disparitas antara harga patokan Surabaya dengan harga bahan pangan di masing-masing provinsi ke dalam satuan ukur yang digunakan komoditas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, disparitas tertinggi ditempati oleh Papua, di mana selisih harga beras per kg antara Surabaya dan provinsi paling timur itu bisa digunakan untuk membeli 7,77 kg beras di Surabaya. Begitu pun dengan komoditas minyak goreng dan telur ayam per kg di mana disparitas harga kedua bahan pangan itu bisa digunakan untuk membeli 4,22 kg telur dan 6 kg minyak goreng di Surabaya.
“Berdasarkan penelitian kami, Sulawesi Selatan bisa jadi negara dengan disparitas terendah karena sebagian besar tinggal di pesisir yang memiliki akses ke pelabuhan. Di sisi lain, disparitas Papua masih tinggi karena sebagian besar barang dari pelabuhan masih harus dikirim ke pedalaman yang tentu saja costly. Jadi, tol laut saja tentu belum berhasil menurunkan disparitas harga,” ujar Panky ditemui di Gedung LIPI, Jumat (25/8).
Namun, ia juga menyadari bahwa metode itu tentu membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah harus bergerak cepat dengan cara mengoptimalkan penggunaan dana desa yang tahun ini dianggarkan sebesar Rp60 triliun demi pembangunan konektivitas desa ke akses transportasi terdekat.
Jika masalah konektivitas darat ini selesai, ia optimistis target pemerintah untuk mengurangi disparitas harga sebesar 50 persen bisa tercapai sesuai tenggat waktunya.
“Kalau ini jadi arah kebijakan ke depan, akses jalan pedesaan ini bisa jadi ujung tombak kebijakan tol laut. Kami pikir, sudah saatnya perlu ada koordinasi penggunaan dana desa antar kementerian,” jelasnya.