"Mekanisme tol laut dengan memanfaatkan jalur balik dari kapal sudah dilakukan sejak zaman Sriwijaya, dan saya rasa masih efektif sampai sekarang untuk titip distribusi bahan pokok," kata Sudirman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GMPT), mengutip ANTARA, Senin (21/11).
Mekanisme distribusi biasanya dilakukan dari daerah yang mengalami surplus komoditi bahan makanan pokok ke daerah yang kekurangan, contoh jagung. Kemudian, ketika kapal tersebut berbalik arah, daerah lain yang dilewati jalur kapal, serta surplus juga mengirimkan ke daerah tujuan balik yang membutuhkan komoditi tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dikarenakan pemanfaatan arus balik kapal sebagai titipan distribusi belum lazim dilakukan antar daerah. "Percobaan yang dilakukan adalah dari wilayah Merauke, Papua menuju ke daerah Surabaya, Jawa Timur, dan hasilnya sangat efisien dalam tahap biaya, karena bisa dititipi barang komoditas lainnya yang dibutuhkan tiap daerah," katanya.
"Contohnya di Lampung, di sana penghasil jagung utama, tetapi kenapa masih kekurangan pasokan jagung? Ternyata antrean barang masuk saja minimal tiga hari. Itupun belum tentu langsung bisa masuk. ketika masuk kualitas jagung sudah menurun. Hal seperti itu yang menghambat terwujudnya tol laut yang baik," pungkasnya. (bir)