Selain Hypermart, ECII Juga Sempat Ajak Supplier Berunding

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Jumat, 25/08/2017 17:15 WIB
Selain Hypermart, ECII Juga Sempat Ajak Supplier Berunding ECII atau Electronic City mengaku sempat melakukan negosiasi dengan para pemasoknya, termasuk terkait pembayaran sewa gedung. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perundingan kelonggaran pembayaran supplier oleh peritel, ternyata tidak cuma dialami Hypermart. PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII), peritel barang-barang rumah tangga dan elektronik, juga mengalami hal serupa.

Manajemen Electronic City mengakui, pihaknya pernah melakukan negosiasi dengan para pemasok, termasuk juga pembayaran sewa gedung.

"Pernah beberapa ngobrol dengan supplier dan tempat sewa, tapi tidak signifikan jumlahnya," ungkap Wiradi, Direktur Pemasaran Electronic City kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/8).


Kendati demikian, Wiradi menyebutkan, perusahaan selalu tetap berusaha melakukan pembayaran sesuai dengan waktu jatuh tempo. Hal ini dilakukan demi menjaga hubungan baik dengan supplier.

"Jadi, memang harus lancar terutama sama rekan bisnis kan harus komitmen," imbuh dia.

Namun, ia mengingatkan, peritel memang perlu menjaga kas internalnya untuk mengantisipasi pembayaran kepada supplier agar selalu tepat waktu. Antisipasi ini bisa dalam bentuk efisiensi biaya operasional perusahaan, seperti kegiatan pemasaran dan biaya karyawan.

"Jadi, tekan biaya semua lini. Kemudian, kami juga akan memperbanyak penggunaan teknologi informasi (TI), sehingga tidak perlu menambah karyawan baru," jelasnya.

Coorporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menuturkan, perusahaan ritel perlu menyiasati pemesanan barang kepada supplier untuk menghindari kelebihan barang. Bila terjadi kelebihan barang, tentu akan berpengaruh pada kas perusahaan.

"Jangan sampai kelebihan barang. Itu kan berarti stok-nya tidak berputar. Artinya, kata kasarnya adalah kalah bayar," papar Solihin.

Perusahaan yang memiliki jaringan ritel Alfamart ini mengklaim, selalu membayar kepada supplier tepat waktu. Manajemen menyadari jika terjadi perlambatan pembayaran akan mengakibatkan supplier kecewa.

Makanya, ia menilai, perlambatan pembayaran bukan semata-mata karena pelemahan daya beli masyarakat. Melainkan juga bisa terjadi ketika perusahaan ritel salah mengestimasikan atau menghitung pemesanan stok kepada supplier.

"Bisa juga mungkin karena perusahaan sangat bernafsu, tetapi ternyata penjualannya tidak sesuai harapan," tutur Solihin.

Terkait Hypermart, manajemen PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sebagai pemilik jaringan ritel tersebut telah melakukan perundingan dengan beberapa suppliernya untuk menyelesaikan masalah penunggakan pembayaran.

Public Relation & Communication Director Danny Kojongian mengungkapkan, proses verifikasi data supplier yang belum dibayar dengan beberapa dokumen penunjang telah dilakukan.

"Minggu depan sudah terbayarkan. Jadi, masalah akan selesai. Kalau ada satu dua yang belum selesai, pintu kami selalu terbuka," kata Danny, kemarin.

Perusahaan sendiri menunggak kepada 27 sampai 30 supplier dari total 4 ribu supplier yang bekerja sama dengan Hypermart.

Dalam surat Hypermart tertanggal 11 Agustus 2017 yang tersebar di awak media tertulis, perseroan meminta kelonggaran pembayaran kepada sejumlah supplier karena beberapa hal, misalnya kondisi makro ekonomi yang tidak cukup baik.

Selain itu, perusahaan juga telah melakukan banyak ekspansi dan merenovasi gerai lama, penjualan saat lebaran yang dibawah ekspektasi, dan kelebihan stok di Hypermart.