Hypermart Janji Bayar Tunggakan ke 30 'Supplier' Minggu Depan

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 24/08/2017 18:53 WIB
Hypermart disebut-sebut menunggak pembayaran miliar-an rupiah kepada supplier. Beredar surat, perseroan meminta kelonggaran pembayaran. Hypermart disebut-sebut menunggak pembayaran miliar-an rupiah kepada supplier. Beredar surat, perseroan meminta kelonggaran pembayaran. (REUTERS/Enny Nuraheni).
Jakarta, CNN Indonesia -- Hypermart berjanji akan membayar utang yang sudah jatuh tempo kepada supplier (pemasok) mulai pekan depan. Jaringan ritel yang dimiliki oleh PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) ini menyebutkan pembayaran akan dilakukan secara bertahap.

Public Relation & Communication Director Hypermart Danny Kojongian mengaku, proses verifikasi data supplier yang belum dibayar dengan beberapa dokumen penunjang telah dilakukan.

"Ini kan hari Kamis (24/8), jadi minggu depan sudah terbayarkan. Jadi, masalah akan selesai. Kalau ada satu dua yang belum selesai, pintu kami selalu terbuka," kata Danny kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/8).


Menurutnya, proses verifikasi data ini untuk memastikan kelengkapan data dan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh supplier. Adapun, total supplier yang belum dibayarkan sekitar 27-30 supplier.

"Total supplier kami 4 ribu lebih, yang masalah ini 27-30 supplier. Jadi, itu hanya sebagian kecil dari total supplier," terang dia.

Hypermart Janji Bayar Tunggakan ke 30 Supplier Minggu DepanFoto: Dok. Istimewa

Sayang, manajemen enggan menyebut angka pasti terkait jumlah dana yang belum dibayar kepada supplier. Namun, Danny memastikan, utang tersebut dalam kisaran miliar rupiah.

Dalam surat Hypermart tertanggal 11 Agustus 2017 yang tersebar di awak media tertulis, perseroan meminta kelonggaran pembayaran kepada sejumlah supplier karena beberapa hal. Misalnya, kondisi makro ekonomi yang tidak cukup baik.

Selain itu, perusahaan juga telah melakukan banyak ekspansi dan merenovasi gerai lama, penjualan saat lebaran yang dibawah ekspektasi, dan kelebihan stok di Hypermart.

Dalam surat itu, perseroan meminta pembayaran yang seharusnya dilakukan pada 31 Juli 2017 akan dilakukan pada 10 Agustus 2017. Sementara, sisanya akan dibayarkan pada September 2017 hingga Februari 2018.

Selanjutnya, perusahaan juga meminta kelonggaran untuk pemesanan dengan pembayaran pada 1 Agustus hingga 31 Desember 2017 menjadi 30 hari setelahnya. Nantinya, pembayaran akan kembali normal pada 1 Januari 2018.

Hypermart Janji Bayar Tunggakan ke 30 Supplier Minggu DepanFoto: Dok. Istimewa

Namun, pada 21 Agustus kemarin diadakan rapat antara supplier, Hypermart, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan Kementerian Perdagangan.

Dalam rapat tersebut tersebut telah disetujui beberapa hal. Contohnya, seluruh utang yang telah jatuh tempo harus dibayar tanpa tambahan waktu dan tidak boleh lagi ada pemotongan secara sepihak tanpa persetujuan supplier.

Hypermart diwajibkan menyelesaikan permasalahan ini paling lambat pada 14 September 2017. Namun, sebelum itu akan dilakukan pertemuan untuk meninjau ulang.

Danny mengatakan, pihaknya tidak ingin berspekulasi jika pembayaran nyatanya tidak dapat dipenuhi sepenuhnya pada pekan depan. Sementara, manajemen mengklaim, perlambatan pembayaran ini tidak akan menganggu kelangsungan usaha secara keseluruhan.

"Kan secara nasional Hypermart tetap beroperasi dan memang kami dalam kondisi pasar yang menantang. Kami harapkan, kondisi akan lebih baik semester ini," tuturnya.

Sumber CNNIndonesia.com di lingkungan Kementerian Perdagangan (Kemendag) membenarkan kabar utang tersebut. Menurut sumber, pihaknya telah bertemu dengan kedua belah pihak, baik Hypermart maupun supplier dalam rangka mediasi penyelesaian masalah.

Adapun pertemuan mediasi itu disebutnya terjadi beberapa hari lalu. Dalam mediasi itu, disepakati bahwa utang akan segera dilunasi oleh Hypermart dalam waktu sebulan ke depan, sejak keputusan diambil dalam mediasi.

"Kami sudah bertemu, sudah mediasi, sudah selesai. Sudah sepakat akan dibayar dalam waktu satu bulan ke depan," jelas sumber tersebut.

Sayangnya, sumber masih enggan merinci jumlah utang yang wajib dilunasi Hypermart atas kontrak terdahulu hingga kontrak yang akan datang.

Sementara, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey turut membenarkan atas utang yang perlu dilunasi Hypermart kepada supplier tersebut.

Menurutnya, kedua pihak telah sepakat menyelesaikan hal ini. Namun, saat ini, keduanya masih melakukan pemeriksaan atas jumlah utang dan jumlah produk sesuai dengan ketentuan kontrak atas persetujuan pembelian kontrak jangka panjang.

"Sedang cek data dan administrasi karena datanya perlu dicek ulang. Tinggal nanti diselesaikan pembayarannya, diusahakan secepat mungkin," ungkapnya.

Hanya saja, ia enggan menyebut jumlah utang tersebut. Namun, ia memastikan jumlahnya tidak besar, sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan.

"Tidak juga (tidak besar). Sebetulnya, ini hal yang biasa karena dalam berdagang, tidak semua barang yang sudah dipesan langsung terjual. Barang dipajang, tapi kalau belum laku ya terus dipajang sampai habis," jelas Roy.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa perkara utang ini tak menandakan bahwa industri ritel mengalami keterpurukan yang dalam. Sebab, persoalan utang tak semata-mata jadi tolak ukur.

"Saya kaget kalau ada yang bilang Hypermart mulai kolabs, kecuali ada evolusi pemerintahan, ada demo dan krisis berkepanjangan, baru kolabs. Ini kan tidak," imbuhnya.

Roy juga menyayangkan bila informasi utang ini menjadi viral dan terlalu dibesarkan. "Seharusnya ini hanya informasi terbatas antara Hypermart dengan supplier saja, tapi ada pihak yang memanfaatkan secara politis sehingga menyebarkan soal ini," pungkasnya.




BACA JUGA