Adapun, pertumbuhan laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar US$1,54 miliar atau meningkat 31,62 persen dibanding semester I tahun lalu US$1,17 miliar. Meningkatnya pendapatan ini tak lepas dari tingginya harga batu bara sepanjang enam bulan pertama 2017.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata Harga Batubara Acuan (HBA) di semester I tercatat sebesar US$83,55 per metrik ton atau meningkat 61,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$51,85 per metrik ton. Pertambangan batu bara tercatat berkontribusi 93 persen terhadap pendapatan usaha perseroan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama Adaro Garibaldi Thohir tetap optimistis bahwa fundamental bisnis batu bara akan tetap positif dalam jangka panjang. Meski begitu, perusahaan berusaha untuk fokus dalam efisiensi beban di seluruh lini bisnis perseroan.
Pasalnya, sepanjang semester I kemarin, perseroan belum bisa menahan laju beban pokok pendapatan yang meningkat 16,38 persen dari angka US$873,12 juta ke angka US$1,01 miliar di semester I tahun 2017. Perusahaan beralasan, membengkaknya beban disebabkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pembayaran royalti karena harga batu bara tengah membaik.
"Kami terus berfokus pada keunggulan operasional dan efisiensi biaya di pilar pertumbuhan perusahaan dalam rangka menyeimbangkan karakteristik batu bara yang siklikal," ujar Garibaldi melalui siaran pers dikutip Selasa (29/8).
Selain itu, ia juga yakin perusahaan bisa mempertahankan pertumbuhan positif di sisa tahun ini. "Kami memiliki posisi keuangan yang semakin kuat dan tetap bertahan di jalur yang tepat untuk menghasilkan laba fundamental yang solid dalam jangka waktu yang lebih panjang," pungkasnya.