Tekan Produksi Batu Bara, Pemerintah Terganjal Target PNBP

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 10/08/2017 09:08 WIB
Tekan Produksi Batu Bara, Pemerintah Terganjal Target PNBP Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang naik membuat terdapat kemungkinan produksi batu bara susah ditekan ke angka 400 juta ton per tahun. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, ada kemungkinan produksi batu bara susah ditekan ke angka 400 juta ton per tahun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Kondisi ini akan terjadi jika pemerintah terus menaikkan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor mineral dan batubara.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan, sejauh ini kontributor utama PNBP sektor minerba berasal dari batu bara.

Ia berkaca pada realisasi PNBP minerba tahun 2016 di mana pendapatan royalti dan iuran tetap batu bara tercatat Rp15,12 triliun. Angka ini mengambil porsi 55,56 persen dari realisasi penerimaan minerba tahun lalu sebesar Rp27,21 triliun.


Adapun di tahun ini, pemerintah justru meningkatkan lagi target PNBP ke angka Rp32,4 triliun. Dengan kata lain, mau tak mau penerimaan dari batu bara juga perlu dimaksimalkan dengan cara menggenjot produksinya.

Jika tren ini berlanjut terus, maka keinginan untuk membatasi produksi batu bara mulai 2019 bisa tersandung.

“Bahkan ada kemungkinan tahun 2019 produksinya masih berlebih nantinya. Selama target PNBP tinggi, kemudian itu akan membebani kontrol produksi,” ujar Bambang di Kementerian ESDM, Rabu (9/8).

Padahal menurutnya, pembatasan produksi harus dilakukan demi mengamankan cadangan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) domestik.

Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2017 hingga 2026, akan ada tambahan PLTU sebesar 31.900 Megawatt (MW) dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, sehingga kebutuhan batu bara akan meningkat dari 84,8 juta ton di tahun 2016 menjadi 152,8 juta ton di 10 tahun berikutnya.

Di tahun ini pun, lanjutnya, sebetulnya sudah banyak perusahaan batubara yang telah mengajukan penambahan kapasitas produksi batu bara. Namun, keinginan itu harus dibendung pemerintah lantaran target produksi tahun ini dikoreksi naik sebesar 15,5 persen.

“Awalnya, di perencanaan tahun ini ditarget 413 juta ton, namun ternyata diprediksi malah meningkat jadi 477 juta ton. Ini karena banyak pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) sudah terlanjur melakukan studi kelayakan dan sekiranya akan mulai berproduksi tahun ini juga. Penambahan produksi ini pun ujung-ujungnya nyambung ke PNBP juga,” ungkapnya.

Agar produksi masih bisa dikendalikan, pemerintah kini meminta produsen batu bara kelas kakap untuk menahan produksinya. “Karena produksi yang mau masuk ini sangat besar dan tak bisa kami tahan, maka kami harap produsen yang besar-besar mau mengimbangi dengan menahan produksinya. Kalau bisa juga ikit dikurangi,” imbuhnya.

Sebagai informasi, realisasi produksi batu bara hingga semester I mencapai 139 juta ton, atau 29,14 persen dari target tahun ini yang dipasang 477 juta ton. Sementara itu, realisasi PNBP di periode yang sama tercatat sebesar Rp18,27 triliun atau 56 persen dari target tahun ini Rp32,4 triliun.