"Prinsipnya, secara agregat penerimaan negara (dari Freeport) sudah disepakati. Freeport mengajukan beberapa hal, menjamin yang lebih besar ada komposisinya. Kami menjamin akan lebih besar dari KK," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa (29/8).
Penerimaan negara yang lebih besar menurut dia, telah diamanatkan oleh Pasal 169 huruf C Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba) dan telah diarahkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diskusi dilakukan dengan melihat kembali seluruh besaran kewajiban atas penerimaan negara berupa pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga pajak daerah. Sementara, untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), berupa royalti dan bea keluar.
"Ada hal-hal yang kami harus kalkulasi dan secara teknis mengenai penerimaan negara bahwa pemerintah butuh pula kepastian. Sehingga dipastikan, kami sedang mengejar agar hal yang ditetapkan ini terkait perpanjangan operasi untuk kedua belah pihak," katanya.
Sri Mulyani memastikan bahwa kesepakatan ke depan tak hanya dilihat dari sisi besaran tarif pajak, tetapi juga keseluruhan penerimaan negara.
"Itu kami lihat bagaimana konsisten dengan ini, sehingga memberi kepastian terhadap Freeport," pungkas Sri Mulyani.