Sebelumnya, larangan pengenaan surcharge dalam transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/11/PBI/2009 sebagaimana telah diubah dalam PBI Nomor 14/2/PBI/2012 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK).
Dalam aturan disebutkan, bank penerbit kartu wajib menghentikan kerjasama dengan toko yang merugikan pemegang maupun penerbit kartu kredit. Jika melanggar, BI bisa memberi sanksi mulai dari teguran hingga pencabutan izin penyelenggaran jasa sistem pembayaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman mengatakan, BI tidak memiliki kewenangan untuk memberi sanksi kepada merchant yang melanggar. Namun, BI berhak untuk menindak bank penyelenggara jasa sistem pembayaran nontunai yang membiarkan kebijakan pengenaan surcharge diterapkan oleh merchant yang menjadi mitranya.
"Kami terus menerus melakukan upaya untuk mencegah (pengenaan surcharge) itu. Kami juga ada pemeriksaan dan setiap ada keluhan dari masyarakat kami akan langsung follow-up," jelas Agusman.
General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha mengungkapkan, praktik surcharge masih terjadi karena bank dan merchant tidak menegakkan aturan yang berlaku.
"Ketentuan dalam perjanjian waktu bekerja sama dengan bank, merchant tidak boleh menambahkan biaya untuk transaksi dengan kartu," ujar Steve.
Namun, dalam transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit, merchant menanggung merchant diskon rate atau tarif yang dikenakan bank untuk setiap transaksi yang dilakukan menggunakan elektronink data captured (EDC) milik bank yang besarnya bervariasi.
"Merchant menerjemahkan biaya MDR (Merchant Discount Rate Perusahaan) itu menjadi surcharge," jelas Steve.
Pengertiaan sederhana dari MDR perusahaan adalah biaya yang diminta bank untuk setiap transaksi yang menggunakan EDC milik bank tersebut.
Sebagai gambaran, seseorang melakukan transaksi pembayaran kartu kredit sebesar Rp100 ribu. Jika bank mendapatkan MDR 1 persen dari transaksi atau Rp1.000, artinya merchant hanya menerima penghasilan Rp99 ribu.
Seharusnya, lanjut Steve, setiap biaya transaksi telah dimasukkan dalam harga barang dan marchant tak perlu lagi mengenakan surcharge, seperti halnya biasa sewa gedung maupun listrik.