Penurunan indeks tak terlepas dari berakhirnya momentum ramadan dan lebaran pada Juni lalu. “Penurunan penjualan ritel terjadi pada kelompok makanan maupun non makanan,” mengutip keterangan resmi BI, Senin (11/9).
Secara rinci, penjualan ritel kelompok makanan turun 0,3 persen dari 10,5 persen menjadi 10,2 persen. Adapun, penurunan terbesar terjadi pada penjualan produk makanan jadi dan minuman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dilihat secara bulanan (month to month), penjualan ritel padaJuli 2017 terperosok dalam hingga minus 9,7 persen. Padahal, pada bulan sebelumnya masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,5 persen.
Penurunan penjualan kelompok sandang terjadi pada kacamata, perhiasan, jam, alas kaki, dan perlengkapannya. Secara regional, penurunan pertumbuhan tahunan IPR terjadi di beberapa kota, seperti Semarang, Denpasar, dan Manado.
Menurut BI, positifnya penjualan ritel diperkirakan terjadi pada kelompok makanan sebesar 10,4 persen dari minus 0,3 persen dan non makanan membaik ke minus 1,9 persen dari sebelumnya minus 7,8 persen.
Bahkan, sampai tiga bulan ke depan, IPR terindikasi terus meningkat. Sebab, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tiga bulan ke depan sebesar 135,5 atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, 133,3.