“Untuk menerbitkan uang elektronik tidak mudah. Bank harus produksi kartu, infrastruktur, teknologi. Misalkan, untuk kartu chip saja, sekarang harga pokoknya Rp18 ribu-Rp20 ribu,” ujar Anggota Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sis Apik Wijayanto, mengutip ANTARA, Senin (18/9).
Dengan biaya teknologi kartu chip, lanjutnya, setiap kartu uang elektronik (sebelum program diskon) dibanderol sekitar Rp25 ribu, dengan harga produksi Rp20 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, Sis tidak merinci masing-masing biaya tersebut dan total biaya investasi untuk pengadaan uang elektronik. "Saya kira, bisa ditanyakan ke masing-masing bank. Tapi, bagi bank ini jadi produk pelengkap," tutur Sis yang juga menjabat Direktur Kelembagaan PT Bank Rakyat Indonesia Persero (Persero) Tbk.
Lihat juga:BTN 'Ngiler' Edarkan Uang Elektronik |
Oleh karena itu, industri perbankan di bawah Perbanas menyokong rencana Bank Indonesia (BI) yang akan melegalkan biaya pengisian saldo uang elektronik.
"Kami akan comply (tunduk) dengan aturan BI," terangnya.
Sis mengklaim, perbankan tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari momentum penyelenggaran 100 persen elektronifikasi jalan tol ini.
Namun demikian, Sis berjanji, perseroannya akan mengenakan biaya isi saldo uang elektronik serendah mungkin, sesuai batas bawah yang dikenakan BI.
"Kalau BI mengatur batas bawahnya Rp1.000, ya kami kenakan sebesar itulah," ungkapnya memberikan ilustrasi.
BRI berencana akan menambah 1,5 juta keping uang elektroniknya untuk menyambut elektronifikasi 100 persen pembayaran jalan tol pada 31 Oktober 2017. Saat ini, uang elektronik BRI yang bernama BRIZZI berjumlah 6,5 juta keping.