Pemerintah Negosiasi Harga 'Kantongi' Sukhoi Lebih Banyak

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 20/09/2017 22:40 WIB
Pemerintah Negosiasi Harga 'Kantongi' Sukhoi Lebih Banyak Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengaku masih melakukan negosiasi harga dengan Rusia terkait rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35. Kendati nilai pengadaan telah ditetapkan, negosiasi harga dilakukan agar jumlah pesawat yang dibeli dapat lebih banyak dari rencana semula. 

"Nilainya (total nilai pengadaan) tetap, tapi kan harganya dinegosiasikan agar jumlahnya lebih banyak," ujar Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo usai rapat koordinasi khusus terkait pengadaan alusista di Jakarta, Rabu (20/9).

Pemerintah Indonesia dan Rusia sebelumnya telah sepakat melakukan pembelian 11 unit Sukhoi SU-35 dengan sistem imbal beli, dengan total nilai pengadaan sebesar US$ 1,14 miliar. Kendati demikian, negosiasi harga tetap dilakukan agar pesawat Sukoi yang dapat 'dikantongi' Indonesia bertambah.


Mardiasmo juga menyampaikan Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar proses negosiasi tentang harga dan jumlah pengadaan Sukhoi bisa segera diselesaikan.

"Sudah jelas, presiden hanya ingin harganya dinegosiasikan, jumlahnya, kelengkapannya tadi kan sudah, tinggal bagaimana proses lanjut," ujar Mardiasmo.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan penandatangan kontrak pembelian Sukhoi baru akan dilakukan bulan November mendatang.

"November (tanda tangan kontrak), orangnya ke sini," ujarnya.

Ryamizard juga menyampaikan kemungkinan untuk menambah jumlah pesawat Sukhoi masih terbuka, tujuannya agar jumlah Sukhoi yang dimiliki Indonesia lengkap untuk satu skuadron.

"Satu skuadron kan 16, ini (baru) 11, masih ada lima lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sempat menyinggung masalah pengadaan pesawat tempur Sukhoi SU-35.

Lamanya proses pengadaan Sukhoi tersebut, menurut Gatot telah menyebabkan Skudaron Udara 14 Lanud Iswahyudi, Jawa Timur tidak beroperasi selama 18 bulan karena pesawat tempur F-5 E/F Tiger II telah purna tugas.

"18 bulan skuadron itu ditutup karena F5 tidak bisa terbang lagi, calon penggantinya itu Sukhoi 35 sampai sekarang belum ada kejelasan," kata Gatot, Jumat (8/9).