Penyerapan Gas Masela oleh Industri Terbentur Harga

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 26/09/2017 16:25 WIB
Penyerapan Gas Masela oleh Industri Terbentur Harga Kementerian Perindustrian menyebut masih ada perbedaan persepsi soal formulasi harga antara industri pengguna dan Kementerian ESDM. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, rencana penyerapan gas dari blok Masela untuk sektor manufaktur masih terbentur persoalan harga.

Ia menyebut, masih ada perbedaan persepsi soal formulasi harga antara industri pengguna dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Adapun, menurut dia, industri pengguna ingin agar harga gas bisa berbasiskan harga produk petrokimia di pasaran yang bersifat fluktuasi.


Namun di sisi lain, Kementerian ESDM ingin bahwa harga gas ditetapkan secara tetap (fixed) per tahunnya dan harus memerhatikan keekonomian proyek lapangan gas Masela.

Masih belum terurainya masalah ini, ia bilang, membuat industri sangsi untuk menyerap gas Masela. “Kami ingin agar formulasinya itu berbasis produk. Jadi, sekarang ada perbedaan mengenai formulasi harga. Kalau formulasi harga belum ketemu, investornya belum bisa jalan,” ujarnya di sela-sela Pertambangan dan Energi Expo, Selasa (26/9).

Ia melanjutkan, sebetulnya, industri pengguna berharap harga dasar gas Masela bisa di angka US$3 per MMBTU di plant gate. Sementara itu, Kementerian ESDM menaksir bahwa harga gas Masela bisa berada di angka US$5,86 per MMBTU.

Untuk menyelesaikan perbedaan itu, Airlangga bilang bahwa instansinya sudah mengajukan permintaan tersebut ke Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Permintaan ini pun sudah direspons oleh Kementerian ESDM, di mana lembaga pimpinan Ignasius Jonan ini berjanji akan mengkaji formulasi harga gas versi pelaku industri.

“Sebab, mereka (Kementerian ESDM) mengatakan masih akan ada perubahan regulasi di hilirisasi gas,” imbuh Airlangga.

Ia juga menjelaskan, jumlah perusahaan calon penyerap gas Masela pun masih sama, yakni tiga perusahaan yang terdiri dari PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Kaltim Methanol Industry, dan PT Elsoro Multi Pratama dengan kebutuhan mencapai 400 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

“Perusahaannya masih tetap tiga, belum berubah,” tutur dia.

Kepastian ihwal pembeli gas sangat penting bagi kelangsungan proyek blok Masela. Sebab, jika angka penyerapannya sudah diketahui, maka kontraktor blok Masela, Inpex Corporation bisa segera melakukan kajian awal konfigurasi kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) atau biasa disebut Preliminary Front End Engineering Design (Pre FEED) di blok Masela.

Jika gas pipa bisa diserap sebanyak 474 MMSCFD, maka kilang LNG Masela diharapkan memiliki kapasitas 7,5 million ton per annum (MTPA). Namun, jika penyerapan gas pipa tak mencapai angka yang dimaksud, maka kilang LNG Masela akan dibangun dengan kapasitas 9,5 MTPA dan hanya alirkan gas pipa sebesar 150 MMSCFD.

Pemerintah berharap komitmen penyerapan gas ini dalam bentuk kontrak dengan syarat dan ketentuan tertentu. Kontrak ini juga diharapkan bisa ditandatangani dalam jangka waktu tiga bulan sebelum Inpex melakukan Pre-FEED.

Inpex mulai mengelola blok Masela sejak tahun 1998 silam sejak diteken kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) dengan jangka waktu 30 tahun.

Setelah itu, rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) pertama blok Masela ditandatangani pemerintah pada tahun 2010. Diketahui, Inpex memiliki hak partisipasi sebesar 65 persen, sedangkan sisanya dimiliki oleh mitranya, Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Kemudian, tahun 2014 lalu, Inpex bersama Shell merevisi PoD setelah ditemukannya cadangan baru gas di Lapangan Abadi, Masela dari 6,97 TCF ke angka 10,73 TCF.

Di dalam revisi tersebut, kedua investor sepakat akan meningkatkan kapasitas fasilitas LNG dari 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA secara terapung (offshore). Namun, di awal tahun lalu, Presiden Joko Widodo meminta pembangunan kilang LNG Masela dilakukan dalam skema darat (onshore). (bir)