Faisal menjelaskan, nilai tukar petani menurun dari 102,87 menjadi 101,60 selama tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi.
"Jadi tiga tahun Pak Jokowi berkuasa petani masih tidak sejahtera," ucap Faisal, Selasa (26/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain nilai tukar petani, Faisal menambahkan bahwa upah riil buruh tani pun mengalami penurunan selama masa pemerintahan Jokowi. Ia mengaku miris dengan situasi tersebut.
Menurut Faisal, saat ini petani masih menjadi pihak yang lemah dalam aspek perekonomian. Petani selalu menajadi pihak yang ditekan sehingga sulit untuk meningkatkan taraf hidupnya.
"Karena kalau panen, harganya jatuh. Kalau tidak panen, harganya tinggi, ditekan oleh Satgas Pangan. Jadi petani tidak boleh menikmati harga tinggi,"
Berangkat dari data-data tersebut, Faisal menilai sektor pertanian akan terus ditinggalkan oleh masyarakat di pedesaan. Mereka, kata Faisal, akan lebih memilih tinggal di perkotaan meski bekerja di sektor jasa low end.
"Jualan teh botol penghasilannya 2,5 kali dari di desa," ucap Faisal.
Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar optimistis Jokowi dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, kebijakan yang sejauh ini diterapkan sudah berpihak kepada petani meski memang belum terlalu terasa dampaknya.
"Land reform misalnya, atau redistribusi aset ratusan ribu hektar yang akan dibagi," ucap orang yang biasa disapa Cak Imin itu.
Cak Imin juga senang dengan sikap Jokowi yang telah merespon pengajuan pembuatan Undang-undang Pertanahan untuk Reformasi Agraria. Dia menceritakan, DPR sudah 15 sampai 20 tahun mengajukan undang-undang tersebut namun baru direspon pada masa pemerintahan Jokowi.
"Ini membuat kami semakin I love you full sama Pak Jokowi," tutur Cak Imin.
Cak Imin mengatakan bakal terus mengawal kebijakan Jokowi yang berkaitan dengan sektor pertanian dan agraria. Dia tidak ingin kebijakan yang diterapkan menjadi salah sasaran.
"Kami harus kawal agar tidak diambil oleh oligarki ekonomi besar," Katanya.